Apakah harta yang banyak atau sedikit, apakah anak yang shalih atau yang tidak shalih, semuanya adalah ujian. إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." [QS. Ath-Thaghabun: 15] Betul, harta yang sedikit membuat kehidupan terasa berat. Tapi harta yang banyak juga ujian berat, apakah hanya jadi ajang berlebihan dalam perkara mubah, atau jadi infaq fi sabilillah. Seringan apa mengeluarkan 100 juta untuk jalan-jalan keluarga, dan seringan apa mengeluarkan 100 juta untuk Gaza, misalnya. Demikian juga, anak yang bermaksiat dan susah diatur adalah ujian yang berat. Tapi anak yang shalih juga ujian berat. Apakah jadi ajang saling berbangga keshalihan, atau tulus ikhlas menazarkan anak sebagai calon syuhada di jalan juang. Di zaman medsos, harta dan anak juga menjadi konten demi eksistensi. Satu bisikan setan yang mem...
Dalam kitab Tarbiyatul Awlad fil Islam, Syaikh Abdullah Nashih Ulwan menegaskan bahwa teman adalah perkara penting dalam pendidikan Anak. Teman memiliki pengaruh besar dalam menjaga keshalihan dan kelurusan akhlak. Sebaliknya, pengaruh teman juga bisa membelokkannya. Apa yang sudah dibangun oleh orang tua, memungkinkan untuk dihancurkan oleh pertemanan. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri sudah mengingatkan bagaimana "teman nongkrong" (الْجَلِيسِ) dapat mempengaruhi seseorang; “Pemisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak wangi olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau terkena baunya yang tidak enak.” [HR. Bukhari no. 2101] Tantangannya, pergaulan atau pertemanan adalah wilayah yang mustahil dikendalikan penuh oleh orang tu...