Setelah mengkaji sirah Nabawiyah panjang lebar dalam beberapa sesi, ustadz pemateri menyampaikan sebuah hikmah bahwa; Jangan menganggap bahwa asal negara dipimpin orang shalih, doktor lulusan Madinah misalnya, dan menterinya para ulama semua, lalu tidak ada lagi masalah. Bahkan zaman Nabi ﷺ menjadi "Presiden" saja, orang munafik tetap beredar, pengkhianatan tetap terjadi, ada orang berzina, ada orang mencuri, bahkan ada fitnah selingkuh istri Nabi ﷺ yang sangat viral! Apalagi zaman kita? Fitnah akan terus bergulir sesuai zamannya. Di setiap zaman, setiap manusia mempertanggung- jawabkan amalnya masing-masing. Berada di zaman kepemimpinan emas, bukan berarti kita pasti selamat. Hidup di Mekkah di zaman Nabi ﷺ, belum tentu kita termasuk golongan yang selamat. Kata ustadz, bayangkan, tinggal di kampung pedalaman di padang pasir, tidak dikenal di peradaban2 besar di zaman itu, tetiba ada yang ngaku Nabi dan menyuruh antum beriman, dan membelanya dengan harta dan nyaw...
Mungkin karena saya orang Betawi, di antara kesan yang teringat dari latahnya para orang tua kami terhadap kondisi yang tidak sesuai adalah ucapan: "astaghfirullah al'adziim..!" Ketika ada orang ribut tengah malam, "astaghfirullah al'adziim, ga tahu apa orang pada tidur?!" Ketika ada anak kecil telanjang lari-larian di jalanan, "astaghfirullah al'adziim, ga diajarin apa sama emaknya?!" Termasuk ketika perempatan jalan semrawut karena lampu merah mati, "astaghfirullah al'adziim, gimana sih ini polisi kagak bantuin ngatur?!" Nyinyir2 mereka, dalam kesan dan ingatan saya, sering didahului istighfar. Minta ampun dari dosa. Dan ini ternyata memang tercantum dalam dalil-dalil syariat; bahwa keburukan yang terjadi pada kita, atau di sekitar kita, itu karena ada dosa kita juga. وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ "Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh ...