Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla berkata; "Andaikata Ramadhan itu 29 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-20. Sehingga, laylatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-20, atau ke-22, atau ke-24, atau ke-26, atau ke-28. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir." Di antara yang menguatkan pendapat malam ke-24 ada Anas dan Hasan, Abu Said Al-Khudri dan Abu Dzar. Bahkan Hasan Al-Bashri mengatakan, رَقَبْتُ الشَّمسَ عشرين سنة، ليلَة أربع وعشرين، فكانت تطلعُ لا شُعاعَ لها “Aku memperhatikan matahari selama dua puluh tahun. Pada malam ke-24 esok harinya, matahari terbit tidak bersinar tajam (sebagai tanda Laylatul Qadar)” [Lathaiful Ma'arif hlm.355] Lho kok? Tidak perlu bingung, karena Nabi shallallahu 'alayhi wasallam yang memerintahkan mengejar di malam ganjil sekalipun tetap i'tikaf full 10 hari tidak pulang. Menarik mendengar penjelasan pakar tafsir Indonesia Syaikh Dr. Saiful Bahri; bahwa...
Survei SMRC tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 65% muslim Indonesia yang selalu/rutin berpuasa Ramadhan. Artinya lebih dari sepertiga muslim Indonesia masih bolong-bolong puasanya. Indonesia Muslim Report 2019 bahkan menyebutkan hanya sekitar 38% muslim yang selalu sholat 5 waktu, lebih dari dua pertiga muslim sholatnya masih bolong-bolong. Keduanya rukun islam dan meninggalkannya dosa besar, tapi masih banyak sekali muslim yang tidak menjaganya. Namun, mereka yang tidak sholat dan tidak puasa itu, insya Allah 95%nya akan menghadari Sholat Id dan mendengarkan khutbahnya. Bahkan mereka yang masih bolos khutbah Jumat masih sangat mungkin duduk diam mendengar Khutbah Id. Inilah salah satu momen terpenting membangun kesadaran mereka. Karenanya, mohon bantuan para Khatib Id, _apapun tema khutbahnya_, kiranya dapat menyelipkan kalimat-kalimat seperti; "Bagi yang pernah tidak berpuasa Ramadhan tanpa uzur, bertaubatlah, karena itu dosa besar." "Bagi yang masi...