Gila sih emang, ada orang (sok) berkuasa yang mengurung satu kota, di dalamnya orang-orang dibunuh, wanita-wanita diperkosa, anak-anak dibiarkan mati kelaparan. Yang mau kirim makanan ke dalam harus seizin dia, yang mau masuk untuk menolong harus seizin dia. Atau minimal seizin teman dia. Gila sih emang. Jadi dia yang nyiksa, dia juga yang ngatur apa dan siapa yang bisa menolong masuk. Dunia luar juga agak gila, karena ga da satupun yang "mampu" menolong, walau punya angkatan bersenjata lengkap. Ga berani terang-terangan perang sama orang gila yang sedang ngebunuhin manusia seenaknya. Satu2nya yang mampu dilakukan saat ini tuk menolong adalah memanfaatkan celah kegilaan si Paling Gila ketika dia ngebolehin makanan, tenaga medis atau pasukan penolong masuk. Celah sempit yang terlihat kotor dan bau busuk. Tapi setidaknya bisa mengurangi sedikit pembunuhan, mengurangi sedikit pemerkosaan, mengurangi sedikit kematian bayi yang kelaparan. Celah yang sedikit demi sedik...
Suatu ketika sahabat Nu’man bin Basyir radhiallahu’anhu, berkata kepada para sahabat yang lain: “Bukankah kalian bisa makan dan minum semau kalian? Sungguh aku melihat Nabi kalian Shallallahu’alaihi Wasallam bahkan tidak memiliki daql (kurma jelek) sama sekali. Dan tidak ada makanan yang bisa memenuhi perutnya” (HR. Muslim no. 2977). Jangan tanya terkait tabungan emas atau sesering apa jalan-jalan ke luar negeri, makan saja masih kurang. Tapi siapa yang bisa menyaingi tabungan pahala beliau? Dalam hal ibadah harta sekalipun, orang yang sedikit hartanya sangat mungkin mengalahkan ibadah harta orang kaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham“. Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu d...