Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kisah

Skill Matematika Imam Abu Hanifah

Seorang wanita pernah datang kepada Abu Hanifah lalu mengadu; "Saudara laki-lakiku meninggal dunia dan meninggalkan 600 dirham. Namun, aku hanya diberi satu dirham darinya." Abu Hanifah bertanya, "Siapa yang membagikan warisnya?" "Dawud Ath-Tha'i", jawabnya. Abu Hanifah berkata, "Itu memang hakmu. Bukankah saudaramu meninggalkan 2 anak perempuan, seorang istri, ibu, 12 saudara lelaki dan 1 saudara perempuan yaitu kamu?" "Betul", jawabnya. Abu Hanifah melanjutkan, "2 anak perempuan mendapatkan 2/3 (400 dirham), ibu mendapat 1/6 (100 dirham), istri mendapat 75 dirham, dan sisanya 25 dirham untuk saudara-saudara lelaki dan perempuan; setiap saudara lelaki mendapatkan 2 dirham, dan engkau mendapatkan 1 dirham". === Diceritakan ulang dari "400 Kisah Imam Empat Mazhab"

Surat Ibunda Ibnu Taimiyyah untuk Ananda

Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengirim surat kepada ibundanya untuk meminta maaf padanya, karena lama merantau di Mesir dan belum kunjung kembali. Sang ibu pun menjawab surat anaknya tersebut: ”Anakku yang tercinta, yang kuridhai Ahmad ibnu Taimiyyah;  Wa ‘alaikassalam warahmatullahi wa barakatuh wa maghfiratuh wa ridhwanuh. Sesungguhnya, Demi Allah, untuk yang seperti inilah aku mendidikmu sejak kecil. Dan demi menolong agama Islam dan kaum muslimin aku mempersembahkanmu dan demi syari’at agamu aku mengajarkan ilmu kepadamu. Dan jangan engkau mengira kedekatanmu dariku lebih aku cintai dari kedekatanmu terhadap agamamu dalam rangka engkau menolongnya beserta kaum muslimin diseluruh penjuru dunia. Bahkan, ketahuilah wahai anakku, keridhanku kepadamu itu kembali pada sejauh mana engkau menolong agama Allah dan kaum muslimin. Dan esok di hari kiamat aku tak akan menuntutmu di hadapan Allah karena jauhnya engkau dariku, karena aku tahu di mana dan apa yang engkau lakukan. Ba...

Imam Ahmad Yang Menolak Gratisan

Saat menuntut ilmu di Mekkah, Imam Ahmad pernah tidak hadir di majelis beberapa hari. Kawannya yang khawatir pun mencarinya. Lalu sampailah di depan pintu tempat tinggalnya, lalu ia pun bertanya; "Bagaimana keadaanmu?" "Pakaianku dicuri", jawab Imam Ahmad. Dikatakan sang kawan, "Aku memiliki beberapa dinar, jika kamu mau, ambillah! Dan jika kamu mau, aku akan meminjamkannya kepadamu?" Ternyata Imam Ahmad menolak. Baik diberi ataupun dipinjamkan. Padahal ia sedang tidak punya pakaian karena dicuri, sehingga tidak bisa keluar rumah. Maka temannya pun menawarkan hal lain; "Maukah kau menuliskan sesuatu dengan imbalan?" Imam Ahmad menyetujui usulan itu, dan akhirnya ia meminta tolong temannya membelikan pena, kertas, dan pakaian dengan uang itu. Salah satu gurunya yang juga kaya, Ibnul Mubarak berusaha membantu Imam Ahmad dengan hartanya, tapi beliau selalu menolaknya, dan berkata, "Aku mengikutinya karena kefakihan dan keilmuannya, ...

Terbunuhnya Seorang Ulama Salaf di Tangan Pemimpin Zhalim

Telah mayshur dalam sejarah peristiwa pembunuhan rakyat secara besar-besaran di era pemerintahan Hajaj bin Yusuf. Pembunuhan dilakukan kepada mereka yang tidak mendukung Hajaj bin Yusuf ketika terjadi pemberontakan Abdurrahman bin Asy'ats. Di antara korban kezhaliman tersebut, juga terdapat seorang ulama besar; Said bin Jubair. Ulama yang bahkan diakui ke'alimannya oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu, sehingga bila ada penduduk Kufah yang meminta fatwa kepada Ibnu Abbas, maka dijawab; "Bukankah di antara kalian ada Ibnu Ummu Ad-Duhama (Said bin Jubair)?". Pada tahun 95 H, setelah bersembunyi selama ±12 tahun, akhirnya Said bin Jubair ditangkap dan dibawa ke hadapan Hajaj bin Yusuf. Berikut cuplikan rekaman percakapan Hajjaj dan Said bin Jubair menjelang hukuman mati sang ulama. Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang diriku?” Sa’id: “Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri.” Hajjaj: “Aku ingin mendengarkan pendapatmu.” Sa’id: “Itu akan menyakitkan dan menjeng...

Kisah Syukur dan Sabar: Abu Qilabah

Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.          Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah. Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu 'anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 H...

"Sembilan Naga" dan Nabi Shaleh as

وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul, وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, وَكَانُوا يَنْحِ...