Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label pendidikan

Tongseng Hikmah

Seorang laki-laki dengan rambut kusut, badan berdebu, berperawakan kurus, tulang tubuhnya berbalur daging tipis. Tapi ia bukan orang sembarangan, ia tercatat mengalahkan 100 musuh dalam laga _man to man_ di medan perang. Bahkan sengaja dilempar oleh rekan-rekannya ke dalam benteng musuh, untuk membuka pintu benteng sendirian dari dalam (padahal pasukan musuh berkumpul di dalamnya)! Ini bukan tokoh fiksi dalam komik atau anime (yang kadang diselipi pornografi), tapi ini adalah tokoh asli yang hadir dalam sejarah. Al-Barra bin Malik radhiallahu 'anhu. Lalu apa hubungannya sama Tongseng Hikmah? Tongseng Hikmah adalah sebutan para santriwati Pondok Pesantren Al-Hassan untuk menu hari Jumat di dapur mereka. Dinamakan Tongseng Hikmah, karena _sedikit sekali dagingnya, yang banyak itu hikmahnya._ Ketika putri kami menceritakan pengalamannya ini, maka kami ceritakan kisah Al-Barra bin Malik radhiallahu 'anhu. Badannya kurus, berbalur daging tipis. Apa sih makanan beliau seh...

Mengapa Keluarga Kita Berusaha Tidak Ke Mall

Pertama, karena mall, terutama di kota-kota besar, banyak berisi orang-orang yang terbuka auratnya. Terlebih para wanita. Bagaimana mendidik anak lelaki untuk membenci pornografi, jika jalan-jalan keluarganya adalah ke tempat diumbarnya aurat? Bagaimana mendidik anak perempuan bahagia dengan pakaian lebar nan syar'i, jika sering melihat sesama jenisnya bebas berpakaian sangat terbuka dan ketat? Hukum menutup aurat di tempat umum adalah wajib. Dan hukum melihat aurat orang lain adalah haram. Hukum ini tidak berubah hanya karena berubahnya zaman.   Kedua, Sahabat Salman Al-Farisi radhiallahu 'anhu sudah mengingatkan; "...pasar adalah tempat berkumpulnya setan dan di sana mereka menancapkan benderanya." [HR. Muslim 2451] Imam Al-Qurtubi mengomentari hadis-hadis tentang pasar; “Pada hadis-hadis tersebut terdapat dalil dibencinya masuk pasar. Terutama pasar di zaman ini , dimana lelaki dan wanita bercampur jadi satu. Demikianlah yang disampaikan para ulama kita...

Untuk Apa Mendoakan Teman-Teman Anak Kita?

Dalam kitab Tarbiyatul Awlad fil Islam, Syaikh Abdullah Nashih Ulwan menegaskan bahwa teman adalah perkara penting dalam pendidikan Anak. Teman memiliki pengaruh besar dalam menjaga  keshalihan dan kelurusan akhlak. Sebaliknya, pengaruh teman juga bisa membelokkannya. Apa yang sudah dibangun oleh orang tua, memungkinkan untuk dihancurkan oleh pertemanan. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri sudah mengingatkan bagaimana "teman nongkrong" (الْجَÙ„ِيسِ) dapat mempengaruhi seseorang; “Pemisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang jelek adalah bagaikan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak wangi olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau terkena baunya yang tidak enak.”  [HR. Bukhari no. 2101] Tantangannya, pergaulan atau pertemanan adalah wilayah yang mustahil dikendalikan penuh oleh orang tu...

Iman Sebelum Al-Quran

Ibnu 'Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, “Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur’an.  Saat diturunkan surah Al-Qur’an kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca Al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar Al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surah al-Fatihah hingga surah an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi.”  [HR. Al-Baihaqiy] Jadi rajin baca Quran saja tidak menjamin akan patuh terhadap hukum Allah, termasuk dosa besar LGBT, mencuri, riba, risywah, buka aurat, dll. Di antara penyebabnya adalah pendidikan iman yang terlewat. Salah satunya iman kepada Hari Akhir, Surga dan Neraka.  Khusus bahasan Neraka, rasa-rasanya penting un...

Meruqyah Anak Sendiri

Ditinggalkannya sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, menjadi salah satu penyebab seorang anak tidak tumbuh dalam kebaikan sesuai harapan orang tuanya. Demikian kira-kira pesan Syaikh Abdurrahman Dahy. Dalam kitabnya; Tauritsu Al-Iltizam , beliau mengangkat bab khusus tentang sunnah-sunnah yang ditinggalkan para orang tua. Di antaranya adalah: sunnah "Meruqyah Anak Sendiri". Bukan berarti anak kemasukan jin sehingga perlu diruqyah. Tapi secara umum meminta anak dilindungi dari setan dan gangguan. Sunnah ini beliau pisahkan dengan sunnah mendoakan anak. Syaikh Abdurrahman Dahy mengangkat hadits; Nabi saw membaca doa perlidungan untuk Al-Hasan dan Al-Hussain seraya berkata, “Sesungguhnya bapak kalian (Ibrahim) mendoakan perlidungan untuk Ismail dan Ishak seraya membaca: أعوذ بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ومن كل عين لامة A’udzu bikalimatillahi at-tammati min kulli syaithan wa hammatin wa min kulli ‘ainin lammah Artinya: Aku berlindung dengan ka...

Tersesat di Rumah Sendiri?

Di musim sekolah, anak-anak sekolah islam dan pondok diarahkan dengan baik sehingga teratur mengamalkan Sholat Dhuha, Dzikir Matsurat, dan Tahsin Tilawah. Lalu kenapa, ketika di musim liburan, di rumahnya sendiri, anak-anak itu seperti kehilangan arah? Tak ada lagi Dhuha, Matsurat dan Tilawah?  Mungkin ini sekulerisme gaya baru? Ibadah-ibadah itu hanya kegiatan sekolah, jadi di luar sekolah tidak perlu lah? (Mirip dengan yang masa sekolah jilbaban, dan lepas semua saat kelulusan). Repotnya, (sebagian) orang tua di rumah juga punya mindset yang sama; "Biarinlah, mumpung liburan kasihan capek disuruh2 ibadah". Ini ga mau anaknya capek demi ibadah, atau ga mau dirinya sendiri capek ngurusin ibadah anak2nya? "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. 66:6) Ini ayat untuk orang tua, bukan untuk guru sekolah, apalagi kepsek dan waka kurikulum. Jangan sampai anak justru tersesat di rumahnya sendiri. Tersesat di musim liburan. Aktifitas baik itu per...

Kejahatan Ortu di Era Dijital?

https://hms.harvard.edu/news-events/publications-archive/brain/screen-time-brain Kajian Harvard Medical School menunjukkan pengaruh smartphone pada melemahnya konsentrasi dan memori anak.  Adapun kajian Profesor Kawashima Ryuta dari Tohoku Univ menunjukkan bahwa ukuran otak anak yang terlalu sering bermain smartphone tidak berkembang, alias stop bertumbuh. Padahal masa kanak2 adalah masa otak bertumbuh pesat. Jadi, berbagai riset menunjukkan bahwa smartphone mempengaruhi otak (anak) baik secara fungsional maupun struktural. Maka, di antara bentuk kejahatan orang tua terhadap anaknya di masa sekarang adalah membiarkan anaknya bebas bermain smartphone. Karena itu berpotensi merusak otak anak yang sedang tumbuh-tumbuhnya. Bagaimana caranya agar anak lebih terkontrol terkait smartphone? 1.Mulai dari ortu membatasi dirinya sendiri. 2.Ajak anak dialog tentang efek smartphone dan bagaimana memakainya dengan bijak. Berulang-ulang. 3.Buat aturan sebagaimana saran para ahli: - m...

Investasi Bodong THR Anak-Anak?

Dalam ayat ke-6 surat An-Nisa, Allah memberikan panduan bagaimana memberikan uang pada anak; "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.." Di antara makna " rusydan " atau cerdas dalam hal harta adalah bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Memprioritaskan kebutuhan, dan tidak menghamburkan harta tuk sekedar keinginan. Di musim lebaran ketika anak-anak banyak mendapat THR, maka mereka perlu diajak berpikir dan merencanakan ke mana akan menggunakannya. Investasi bodong bukanlah ketika THR dititipkan ke orang tuanya. Tapi the real investasi bodong adalah ketika anak dibiarkan belanja barang makruh apalagi haram dengan THR mereka. Apakah sekedar top up game, beli fashion buka aurat ala artis, jajan banyak makanan manis penyebab diabetes, atau bahkan pasang slot di judi online. Bukankah mereka masih ha...

Metode Parenting Tertinggi...

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu mengenang masa kecilnya; ضَÙ…َّÙ†ِÙŠ النبيُّ صَÙ„َّÙ‰ اللهُ عليه وسلَّÙ…َ إلى صَدْرِÙ‡ِ، وقالَ: اللَّÙ‡ُÙ…َّ عَÙ„ِّÙ…ْÙ‡ُ الحِÙƒْÙ…َØ©َ. "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memelukku ke dada beliau dan berdoa; 'Ya Allah ajarkanlah ia al-Hikmah' " [HR. Bukhari no.3756] 1.Doa adalah metode parenting tertinggi, karena disandarkan kepada Allah Yang Maha Tinggi, Penguasa mutlak setiap hati. 2.Jangan sombong merasa bisa membimbing anak dengan berbagai teori versi kita, karena hidayah hanya milik Allah azza wa jalla. 3.Memeluk, akan meningkatkan bonding anak dan orang tua, sehingga terjaga fitrah saling percaya antar keduanya. 4.Riset menunjukkan bahwa pelukan dapat meningkatkan hormon kebahagiaan (oksitosin), bagi yang memeluk maupun yang dipeluk. 5.Doakan anak secara sering dan berulang , sebagaimana Ibnu Abbas ra meriwayatkan berbagai teks doa Nabi saw yang dikhususkan untuknya. Jangan menyerah, jangan berhenti. 6.Doa dengan suara yang d...

Walau Tak Bertemu Ananda

Ini adalah kisah Ibunda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.. Suatu ketika Sang Anak tercinta menulis surat kepadanya. Memohon maaf atas jauhnya dirinya dari Sang Ibunda, karena kesibukan dakwah dan khidmat untuk Islam dan kaum muslimin. Sebagaimana direkam dalam Majmu' Fatawa 28/48, berikut isi surat jawaban Sang Ibunda. ===== Wahai Anakku tercinta, Ahmad bin Taimiyyah, Wa 'alaikas salam Warahmatullah Wabarakatuh Sesungguhnya demi Allah, untuk tujuan itulah aku mendidik dirimu, untuk berkhidmat di medan dakwah islam dan kaum muslimin aku bernadzar tentang dirimu. Dan di atas Syariat Islam aku mengajarimu. Jangan engkau sangka wahai anakku, bahwa dekatnya dirimu denganku lebih aku cintai dari dekatnya dirimu dengan agamamu dan khidmatnya dirimu untuk Islam dan kaum muslimin di penjuru dunia. Justru wahai anakku, sesungguhnya keridhaan diriku padamu sebanding dengan sejauh mana jasamu untuk agamamu dan kaum muslimin. Aku tidak akan bertanya padamu kelak di had...

Beruntunglah Sekolah yang Benar-Benar Memiliki Murid

Mengutip pemaparan Dr. Wido Supraha, kata murid (مريد) berasal dari bahasa Arab yang sering diartikan “seseorang yang berkomitmen” dan akarnya berasal dari kata iradah (keinginan yang kuat dari dalam diri) atau willpower .  Dikatakan bahwa Imam Abul-Qasim Al-Qusyairi (w.465 H) dalam ar-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilm at-Tashawwuf, membahas mendalam masalah penggunaan kata murid ini; Murid adalah seseorang yang memiliki kehendak meniti jalan menuju Allah ï·», sebagaimana seorang ‘alim yang memiliki ilmu untuk menguatkan kealimannya. Kehendak yang kuat itu menjadi semacam muqaddimah dalam menjalani perjalanan panjangnya hingga kelak bertemu Allah ï·». Dari sana, maka sekolah yang memiliki murid dalam makna yang sejati, berarti memiliki anak-anak yang berkeinginan kuat terhadap ilmu, sebagai jalan untuk menuju Allah ta'ala. Bukan yang semangat ke sekolah hanya karena ingin main sama teman, ngobrol tentang bola dan korea, atau mengejar hadiah-hadiah kuiz di kelas. Guru jadi haru...

Bahaya Memaksa Anak Masuk Pondok

Namanya pemaksaan memang cenderung bahaya. Sama bahayanya dengan memaksa anak masuk sekolah biasa padahal dia pengen ke pondok. Namun anak bisa diarahkan. Jika memang orang tua sudah memiliki visi bahwa pendidikan karakter dan kemandirian dengan kurikulum 24 jam, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, adalah baik buat anak, maka anak bisa diarahkan. Kalau orang tua tidak mau mengarahkan kecenderungan anak, maka para tiktokers, youtubers, dan influencers akan dengan senang hati "mendidik dan mengarahkan" anak-anak kita (sebagai objek  cuan. ) Di antara cara orang tua mengarahkan anak adalah dengan membatasi "arahan" yang tidak terkontrol dari influencers di dunia maya. Buat kesepakatan pemakaian internet bersama anak. Apalagi ada riset yang membuktikan bahwa kebanyakan main internet bisa menghentikan perkembangan otak anak. Kedua, beri anak asupan yang membuatnya bersemangat ke pondok. Di antaranya bacaan-bacaan tentang pondok. Walhamdulillah, sudah b...

Berlindung di Balik Mantra "Semua Anak itu Unik"

  Betul, semua anak itu unik. Punya kelebihan masing-masing, dan punya kecenderungan dan potensi yang berbeda-beda. Tapi perlu juga hati-hati dalam menyikapi sampai di mana batas keunikan yang dimaksud. Contoh pada gambar di atas adalah ilustrasi yang agak kebablasan. Keunikan anak-anak dalam pendidikan diimajinasikan dengan keunikan antara satu hewan dengan satu hewan lainnya. Tentu saja ikan tidak bisa dipaksa memanjat pohon, demikian juga gajah. Tapi, anak-anak kita adalah manusia semuanya. Bukan spesies yang berbeda-beda. Keunikan, atau perbedaan anak-anak, dalam skill yang sifatnya mubah , masih bisa ditolerir. Tapi ada skill yang sifatnya wajib, yang selayaknya sebagai manusia harus dimiliki semua anak. Paling sederhana dalam masalah adab, misalnya. Tidak bisa seorang ibu merasa keunikan salah satu anaknya adalah “Dia sih tidak bisa disuruh-suruh sama orang tuanya”. Atau seorang anak yang sulit dinasihati gurunya, dianggap punya keunikan tersendiri. Masalahnya s...

Persamaan Umar bin Khattab dan Anak-Anak Kita

Dalam Hadits Imam Ad-Darimi no. 436, dikisahkan bahwa; Suatu ketika Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ia dalam kondisi bersemangat karena mendapatkan salinan Taurat. Namun Nabi justru menampakkan wajah tidak senang, bahkan Umar ditegur dengan keras. Apa persamaannya dengan anak-anak kita sekarang? Sama-sama tidak dianjurkan membaca sembarang sumber, sebelum iman tertanam kuat di dalam jiwa. Betul, anak-anak kita sekolahnya di islam terpadu, ngaji di sekolah setiap hari. Pun ditegakkan aturan menutup aurat selalu. Tapi juga rajin menyerap tontonan artis korea yang tampak glowing dengan busana terbuka, kata-kata kasar di postingan viral, juga bermain game yang padat konten pembunuhan dan pakaian seksi. Jika seorang sekelas Umar yang masih halaqoh langsung dengan sang Nabi saja masih dilarang dulu baca-baca Taurat sembarangan. Apakah seorang anak diperbolehkan "baca-baca" gadget sembarangan hanya karena sudah sek...

Bahaya Mengikuti Passion?

Professor Cal Newport seakan memecah mantra para motivator dengan bukunya ini. Ternyata passion malah bisa jadi jebakan yang menjauhkan dari kesuksesan hidup. Persis sama dengan nasihat Dato Sri Tahir dalam sebuah talk show di media tv nasional; "Jangan hidup karena passion". Lebih lanjut salah satu orang terkaya di Indonesia itu menjelaskan bahwa hidup itu dengan responsibility ; saat jadi anak, ya bertanggung jawab sebagai anak, saat jadi murid ya bertanggung jawab sebagai murid. Bahaya mengikuti passion juga dikaji dalam sebuah riset yang menunjukkan bahwa sebenarnya, manusia tidak terlalu jago menentukan apa yang akan membuatnya bahagia di masa depan. Hasil emosi dan perasaan di suatu masa, tidak bisa jadi patokan bahwa dia akan bahagia dengan hal yang sama di masa depan (Gilbert and Wilson, 2009). Bahkan Steve Jobs, disebut awalnya memiliki passion pada zen buddhisme, dan terjun ke dunia teknologi demi dapat uang saja. Tapi akhirnya ia serius di bidang itu, ...

Kok Orang Tua Dulu Ga Belajar Parenting?

Orang tua sekarang harus belajar bagaimana bersikap ke anak, cara berbicara ke anak. Orang tua ga boleh marah ke anak, ga boleh banyak nyuruh, tapi harus paham kejiwaan anak. Orang tua juga harus paham perkembangan otak anak. Cara parenting ke anak usia 7 tahun beda dengan yang 12 tahun. Nanti kalau anak remaja beda lagi caranya. Jadi orang tua harus paham adab dan tata cara berinteraksi dengan anak. Apakah anak juga belajar "childrening"? Belajar gimana cara bersikap dan berbicara kepada orang tua? Atau qoulan karima kalau kata Al-Quran... Gimana adab ketika ditegur orang tua, dan sikap ketika orang tua menyuruh sesuatu? Kenapa anak ga belajar "childrening"? Karena anak fokus belajar akademik agar pintar. Rajin les dan ekskul agar berprestasi. Biar masa depan sukses, pekerjaan bergengsi, hidupnya mapan. Sedangkan orang tuanya harus rajin parenting, biar ga berbuat salah sama anak... Lalu, kenapa banyak orang tua dulu ga belajar parenting tapi anak-anak...

Tujuan Utama Parenting?

... Adalah sebagaimana tujuan penciptaan manusia itu sendiri, yaitu beribadah kepada Allah (QS. 51:56). Parenting yang baik, bukan agar anak sekolahnya pinter, atau kerjaannya bagus, hidup nyaman, dll. Parenting, atau pendidikan apa pun itu, bertujuan membuat anak semakin dekat pada Allah, menjadikan anak meniatkan hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Hidup hanya sementara, apa enaknya sekolah favorit, kerjaan bergengsi, gaji tinggi, tapi hanya sebentar, sedangkan sisa hidupnya tersiksa. Orang tua sayang anak, akan memastikan anaknya bahagia, bukan cuma tuk beberapa tahun di dunia, tapi tuk jutaan tahun, milyaran tahun, bahkan tak terhingga tahun, kelak di "sana". "Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. 66:6) #pray4gaza

Tantangan Orang Tua Mapan

"Barangsiapa tidak bisa mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan mensyukuri nikmat yang banyak" [HR. Ahmad 4:278] Di antara tantangan bagi para orang tua yang sudah mapan adalah mengajarkan anak-anak kesederhanaan. Jangankan orang tua yang mapan, orang tua yang hidupnya pas-pasan pun cenderung ingin memberikan yang bagus bahkan mewah. "Demi membahagiakan anak", katanya. Sejatinya, kebahagiaan hakiki itu ada di akhirat, yang didapatkan justru dengan karakter bersyukur selama di dunia. Sedangkan karakter bersyukur, tidak didapatkan kecuali dengan sering dididik mensyukuri hal yang tidak mewah, hal yang sederhana, hal yang kecil, bahkan ketidaknyamanan. Demi mengajarkan kesederhanaan kepada anak, tidak jarang orang tua perlu memilih jalan tidak mapan, hadiah yang tidak mewah, kehidupan yang sederhana. Demi membentuk karakter bersyukur, yang hakikatnya, itulah hadiah yang akan mengantarkan mereka pada kebahagiaan abadi, di akhirat. Bukan yang sementar...

Gen Stroberi?

Generasi Stroberi merujuk pada generasi yang gampang benyek menghadapi tekanan (walaupun tampak cantik/ganteng, dan sehat?). Ketika memberikan "tausiyah" kepada mahasiswa Stanford awal Maret lalu, CEO Nvidia, Jensen Huang, berkata; "Greatness comes from character and character isn't formed out of smart people—it's formed out of people who suffered." [ Kehebatan datang dari karakter. Dan karakter tidak terbentuk dari orang-orang pintar, melainkan dari orang-orang yang melewati penderitaan .] Walaupun Nvidia adalah salah satu produsen komputer gaming terbaik di dunia, ternyata Presdirnya ga ngajarin tuk mengisi hidup dengan maen. Malah disuruh menderita, kalau mau sukses. Contoh paling up to date teori ini adalah anak-anak  Gaza. The Greatest Generation zaman ini. Maka demikian pula sebaiknya orang tua melatih anak-anaknya dengan "cobaan dan penderitaan", bukan dengan fasilitas dan berbagai tunjangan. Demi mempersiapkan bahu-bahu tanggu...

Ajak Anak Berdoa

Berdoa agar Pemilu lancar, dan Allah menangkan pemimpin dan aleg terbaik untuk Indonesia. Anak-anak yang belum baligh, belum punya dosa. Jika mereka diajak dan diajarkan untuk berdoa dengan khusyu,  Jika mereka termasuk yang rajin mengaji dan sholat dengan baik, Bisa jadi doa mereka lebih makbul daripada doa orang tuanya. Yuk, kuatkan doa. #viralkandoa