Pertama, karena mall, terutama di kota-kota besar, banyak berisi orang-orang yang terbuka auratnya. Terlebih para wanita.
Bagaimana mendidik anak lelaki untuk membenci pornografi, jika jalan-jalan keluarganya adalah ke tempat diumbarnya aurat?
Bagaimana mendidik anak perempuan bahagia dengan pakaian lebar nan syar'i, jika sering melihat sesama jenisnya bebas berpakaian sangat terbuka dan ketat?
Hukum menutup aurat di tempat umum adalah wajib. Dan hukum melihat aurat orang lain adalah haram. Hukum ini tidak berubah hanya karena berubahnya zaman.
Kedua, Sahabat Salman Al-Farisi radhiallahu 'anhu sudah mengingatkan; "...pasar adalah tempat berkumpulnya setan dan di sana mereka menancapkan benderanya."
[HR. Muslim 2451]
Imam Al-Qurtubi mengomentari hadis-hadis tentang pasar;
“Pada hadis-hadis tersebut terdapat dalil dibencinya masuk pasar. Terutama pasar di zaman ini, dimana lelaki dan wanita bercampur jadi satu. Demikianlah yang disampaikan para ulama kita”.
[Al-Jami' Li Ahkamil Quran 13/16]
Di zaman beliau pun (750 tahun lalu), pasar di masa kekhalifahan islam, sudah bisa menimbulkan fitnah, maka apalagi zaman sekarang.
Tentu bukan tidak boleh ke pasar/mall. Tapi apakah layak healing keluarga di tempat yang banyak setannya?
Sedangkan Nabi kita ﷺ healingnya dengan meminta Bilal mengumandangkan azan [HR. Abu Daud no.4985].
Kita memohon kepada Allah, agar healing keluarga adalah ketika bisa berangkat bersama ke masjid untuk sholat awal waktu.
Kita meminta kepada Allah, agar healing keluarga adalah makan bersama di rumah, masakan berkah buatan ibu yang tidak telat sholat subuh, yang memasak sambil dzikir dan sholawat, bukan yang dimasak di resto entah oleh orang yang menjaga sholat atau meremehkannya.
Kita berdoa kepada Allah agar healing pasangan dan anak-anak tercipta ketika tadarus quran bersama di rumah, yang tidak terasa sebagai perintah dan beban, tapi justru membuat hati bahagia dan nyaman.
Dan semoga anugerah yang sama Allah turunkan tuk semua keluarga beriman.
---
H-122 Ramadhan
Komentar
Posting Komentar