Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ayah

Khutbah Jumat: Sepenting itu Sholat bagi Ayah

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa 12 November adalah Hari Ayah Nasional, menjadikannya momentum untuk menguatkan kembali kesadaran para Ayah akan tanggung jawabnya di rumah. Namun dalam konteks ibadah, bisa dibilang hari Jumat inilah hari Ayah, harinya para lelaki dikumpulkan, mewakili keluarganya, demi menguatkan kembali kesadaran bertakwa, dan membawa pesan takwa itu ke rumah.   Jama’ah sholat Jum’at, para ayah d...

Termuda Dalam Sejarah, Anak 10 Tahun Lulus Sertifikasi Notaris Properti

Koshin Mizuochi, kelas 4 SD berhasil lulus dalam ujian sertifikasi "Takkenshi" atau Real Estate Notary di Jepang. Demikian berita di kanal Kansai TV News. Tingkat kelulusan sertifikasi ini di tahun 2023 adalah sekitar 17%, dengan rata-rata usia peserta yang lulus sekitar 35 tahun. Menguasai hukum-hukum perdata menjadi dasar untuk lulus sertifikasi ini. Berita ini seolah kembali menyadarkan kita, betapa anak-anak, sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa besar untuk tumbuh. Jika merujuk pada sejarah Islam, tercatat pula seorang anak kelahiran Gaza 13 abad yang lalu, bernama Muhammad bin Idris. Sejak muda ia menguasai kitab-kitab hukum, bahkan di usia ke-15 sudah memberikan fatwanya untuk masyarakat (Tarikh Baghdad II/64). Di kemudian hari ia dikenal dengan nama Imam Syafi'i. Demikianlah anak-anak, potensi luar biasanya tidak berubah, dari masa ke masa. Yang berubah-ubah adalah cara orang tua dan lingkungan mendidik mereka. Ketika anak-anak diremehkan potensi...

Bahaya Hidup Sederhana bagi Anak?

Menurut Psikolog David J Bredehoft PhD, anak yang tidak terdidik hidup sederhana akan mengakibatkan, di antaranya; 1. Selalu ingin hadiah segera 2. Tidak mampu mengendalikan diri 3. Makan berlebihan 4. Tidak bertanggung jawab 5. Tidak paham apa itu "cukup", dll. Dalam islam sendiri, ajaran hidup sederhana erat kaitannya dengan pembentukan karakter syukur. Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia juga tidak akan mensyukuri yang banyak.  [HR. Ahmad, 4/278] Anak yang tidak bisa mensyukuri makan nasi tempe tahu, akan sulit mensyukuri makanan yang lebih mewah daripada itu. Anak yang tidak bisa mensyukuri jatah gadget 15 menit sehari, akan sulit bersyukur dikasih jatah gadget berapa lama pun. Anak yang tidak bisa mensyukuri liburan murah meriah, akan sulit bersyukur ketika diajak liburan mewah. Akhirnya anak tidak tahu apa itu cukup, dan sulit bahagia kecuali level rewardnya dinaikkan terus. Dalam mendidik kesederhanaan, orang tua harus menjadi teladan....

5 Langkah Praktis Menshalihkan Buah Hati

1. Berterima kasih kepada Allah Bersyukur pada Allah atas penghasilan halal kita berapapun itu, kondisi pasangan, kondisi anak-anak yang ada, dst.  2. Berterima kasih kepada orang tua kita sendiri Sulit rasanya kita mendapatkan anak shalih, jika kita sendiri bukan anak yang shalih terhadap orang tua kita. 3. Memperbanyak amal yang diridhai Allah Orang tua yang banyak beramal shalih akan menjadikan pertolongan Allah dekat. Anak-anak pun akan meneladani apa yang mereka lihat. 4. Banyak bertaubat Dosa-dosa orang tua di tengah perjalanan bisa mennggelincirkan keluarga dari jalan kebaikan, bahkan bisa menjadi contoh bagi anak-anak. 5. Berserah kepada Allah Setelah langkah itu semua, tetap berserah secara penuh kepada Allah, karena memang hanya Allah yang berkuasa atas setiap hati manusia. Semua langkah-langkah ini terangkum dalam doa di dalam Al-Quran; رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰ...

Belajar Keayahan dari Nabi

Di antara risalah akhlak yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah risalah parenting, bagaimana menjadi ayah, atau orang tua secara umum bagi anak-anak. Beberapa bagian risalah tersebut, bisa kita ambil dari cuplikan kisah beliau shallallahu 'alaihi wasallam.  1. Mencium anak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqra bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqra berkata, "Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium". Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqra lalu beliau berkata, "Barangsiapa yang tidak merahmati maka ia tidak akan dirahmati (Allah)" [HR. Bukhari no. 5997] Jadi mencium anak akan mengundang rahmat Allah. Siapa yang tidak mau rumahnya diliputi rahmat Allah?   2. Menyambut kedatangan anak Dalam hadits yang agak panjang, 'Aisyah radhiallahu 'anha bercerita tentang putri Nabi, Fathimah radhialla...

Pentingkah Pendidikan Seksual Untuk Anak?

Pendidikan seksual bagi anak sering sekali dianggap tabu dan memicu debat. Padahal, pendidikan seksual di usia dini justru bisa menjadi cara melindungi anak-anak dari kekerasan seksual (Tirtawinata, 2016). Lebih jauh lagi, Komisaris HAM Council of Europe menyatakan bahwa pendidikan seksual yang komprehensif dapat melindungi anak-anak dan menciptakan masyarakat yang lebih aman (Mijatovic, 2020). Logika sederhana: anak yang punya ilmu tentang seksualitas, tidak akan mudah ditipu oleh orang-orang yang ingin menjahatinya. Lalu, kapan sebaiknya memulai pendidikan seksual? Merujuk Mayo Clinic Children Center USA, pendidikan seksual bisa dimulai sejak usia 5 tahun. Tema yang dibahas adalah bagian-bagian tubuh, bahwa itu miliknya, tidak boleh sembarangan disentuh orang, dll. Simpel, tapi penting. Di usia-usia berikutnya, bisa dilanjutkan dengan tema hubungan antara lelaki dan perempuan. Dalam Islam misalnya, diperintahkan memisahkan tempat tidur anak laki dan perempuan mulai usia 1...

Efek Banyak Membacakan Cerita untuk Anak

Riset menunjukkan bahwa terlalu banyak melihat layar bagi anak usia dini, dapat menghambat pertumbuhan anak di sisi komunikasi dan  problem solving skill  (JAMA Pediatrics, 2023). Sedangkan orang tua zaman sekarang, banyak yang menjadikan layar gadget sebagai jurus andalan agar anak  anteng . Bagaimana solusinya? Mungkin inilah saatnya memakai jurus warisan dari para tetua dulu untuk membuat anak  anteng ; bacakan cerita. Suara keras orang tua yang tetiba bercerita, apalagi diiringi nada yang unik, akan membuat perhatian anak tertuju pada sumber dan suara, fokus mendengar, dan  anteng . Studi yang dipublikasi University of South Australia pada tahun 2022 menunjukkan bahwa membacakan cerita kepada anak akan menjadikan anak memiliki ketahanan sosial 3x lipat lebih besar daripada anak yang tidak. Anak akan lebih tahan terhadap berbagai masalah dalam pergaulan di sekolah, misalnya. Dalam studi lain, yang dilakukan tim peneliti Italia terhadap 32 sekolah ...

5 Ciri Orang Tua Sukses Mendidik Anak Versi Jepang

Rinko Torii, seorang penulis dan konsultan pendidikan di Jepang, mengamati pendidikan anak-anak di keluarga Jepang selama 10 tahun. Dari pengamatannya, ia melihat ada 5 persamaan ciri, di antara orang tua yang sukses mendidik anaknya di rumah. 1. Serius menyepakati arah kebijakan pendidikan anak di rumah Yang dimaksud di sini bukan sekedar sesuatu yang normatif seperti "membentuk anak yang ceria dan sehat". Tapi juga harus sampai pada detilnya. Misalnya "membentuk anak yang gemar makan sayur dan olahraga", "membentuk anak yang menjaga hak-hak orang lain", dll. Orang tua yang mau bersusah payah memikirkan arah kebijakan pendidikan anak di rumah, cenderung akan sukses mendidik anak mereka. 2. Berupaya melihat sisi baik anak dan memujinya walaupun kecil Orang tua terkadang cenderung ingin meluruskan kekurangan-kekurangan anak, tapi lupa memuji anak. Padahal di balik kekurangan-kekurangan anak, ada kebaikan-kebaikan yang mereka miliki. Memuji kebai...

Mengapa Orang Tua Dulu Bisa Mengasuh Anak Tanpa Ilmu Parenting?

Ada banyak versi jawaban terkait hal ini. Berikut ini hanya salah satunya saja, versi pribadi. Bisa jadi sangat kontroversial. Silahkan diskip jika tidak sepakat. Atau disebarkan, jika manfaat. Mungkin, pengasuhan orang tua kita zaman dulu berhasil, tanpa ikut seminar parenting, karena kesholihan mereka. Suksesnya pengasuhan seorang anak itu karena hidayah Allah. Bukan karena keahlian orang tuanya, atau keahlian konsultan, psikolog, dsb. Jika demikian, maka cara utama tuk mengasuh anak adalah dengan mendekat ke Sang Pemilik Hidayah. Menjadi orang tua sholih. Sholih bukan hanya terbatas rajin sholat, rajin sedekah, rajin ke masjid dll. Tapi sholih yang utama juga termasuk ibadah hati berupa tulus ikhlas, syukur, dan sabar. Mungkin orang tua kita zaman dulu tidak banyak jumlah ngaji dan sholatnya. Tapi bisa jadi setiap kalinya dilakukan dengan hati penuh ikhlas, syukur, dan sabar. Maka itulah penyebab datangnya hidayah Allah, dalam pertumbuhan anak-anak mereka. Atau juga mung...

Ayah Ngapain Aja Di Rumah?

Sudah diketahui melalui berbagai riset bahwa peran ayah dalam pengasuhan anak akan mempengaruhi kestabilan emosi dan perilaku anak, sehingga anak bisa lebih sukses baik di sekolah maupun di masyarakat. Tentu peran ayah dalam pengasuhan yang dimaksud bukanlah sekedar tukang marah atau tukang bagi uang jajan. Disadur dari situs surreycc.gov.uk, berikut ini beberapa peran yang bisa dilakukan ayah dalam pengasuhan anak. 1. Luangkan waktu bersama anak Ayah perlu meluangkan waktu khusus bersama anak untuk menyampaikan hal-hal penting. Anak-anak akan tumbuh degan cepat, dan waktu menjalin hubungan dengan mereka adalah SEKARANG. Ada banyak cara menyenangkan untuk menghabiskan waktu bersama mereka. 2. Tegakkan disiplin dengan cinta Semua anak membutuhkan bimbingan dan disiplin yang positif. Bukan sebagai hukuman, tetapi untuk menetapkan batasan yang masuk akal. Ayah harus menjadi “polisi yang mengayomi”. 3. Jadilah teladan bagi anak-anak Disadari atau tidak, ayah adalah ...

Mengapa Usia Anak Terjerumus Asusila Semakin Cepat?

Data BKKBN menyebutkan bahwa sebanyak 20% dari kelompok usia 14~15 tahun sudah pernah melakukan seks bebas. Artinya kalau sekelas anak SMP ada 30 orang, kemungkinan 6 orang sudah pernah melakukannya.  Kelompok usia 16~17 tahun angkanya lebih parah; 60%. Apakah penyebabnya? Salah satunya: informasi. Perkembangan teknologi informasi menjadikan anak-anak bersentuhan dengan informasi jauh lebih cepat daripada orang dahulu. Disebutkan bahwa informasi yang diperoleh orang zaman ini dalam 1 hari, lebih banyak daripada informasi yang diperoleh seorang warga Inggris di abad ke-17, seumur hidupnya! (Shuugo Hotta, 2022). Jadi, kalau orang zaman dulu baru kenal pornografi, seks bebas, narkoba, LGBT di usia lebih dewasa, maka anak zaman sekarang akan mengenalnya lebih cepat.  Dan bisa diulang-ulang setiap hari.  Maka menjadi tantangan bagi para orang tua di zaman sekarang, tuk  menyiapkan anaknya memiliki imun lebih cepat  , karena serangan informasi juga sangat cepat. Jika ...

Trik Mengelola Gadget Bersama Anak di Rumah

Gadget bagi anak bisa diibaratkan pisau. Dia bisa memakainya untuk kegiatan bermanfaat seperti membantu bunda di dapur atau membuay prakarya bersama ayah. Namun, dia juga bisa melukai dirinya dan melukai orang lain, jika tidak hati-hati. Karenanya, ayah bunda perlu membersamai anak mengelola alat ini dengan baik. Berikut adalah trik mengelola gadget bersama anak di rumah; 1. Buat kesepakatan bahwa gadget hanya boleh setelah mengerjakan life skill/kebaikan tertentu, dan naikkan levelnya. Usia X= setelah mandi pagi sendiri Usia Y= setelah sarapan dan cuci piring sendiri Usia Z= kalau mampu bangun subuh dengan alarm sendiri dst. Jangan sampai anak bertambah usia tapi life skillnya hanya lihai bermain gadget. Justru jadikan gadget sebagai fasilitas orang tua untuk upgrade skill anak. 2. Siapkan alternatif yang banyak berupa buku bacaan, buku gambar, mainan, dll. Kalau melihat beberapa panduan dinas kesehatan di berbagai negara, maka waktu gadget untuk anak dan remaja itu dibata...

Negeri Tanpa Ayah

Merujuk riset yang dilakukan Elly Risman S.Psi., dalam kurun 2008-2010 di 33 provinsi, ditemukan bahwa rata-rata para ayah di Indonesia hanya bertemu 65 menit sehari dengan anak-anaknya.  Ayah hadir secara fisik, tapi tidak hadir secara emosional dan spiritual. Inilah yang disebut fatherless. Ayah hanya dijadikan sumber nafkah materi. Nafkah ruhaninya tidak ada. Padahal, anak-anak perlu sentuhan ruhani dari kelelakian seorang ayah, sebagaimana mereka memerlukan sentuhan kewanitaan seorang ibu. Sebuah riset menyebutkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa pengasuhan ayah lebih mudah terjerumus melakukan tindakan kriminal (Demuth and Brown, 2004).  Dalam penelitian lain, disebutkan bahwa anak yang tumbuh tanpa pengasuhan ayah, lebih mudah terpapar seks bebas di usia belasan tahun (Teachman, 2004). Riset yang sama juga menyebutkan bahwa kasus anak perempuan hamil dengan usia di bawah SMA di AS, banyak dibarengi dengan status ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan. Bila kit...

Amalan Agung Lelaki Sejati

Ada seorang lelaki biasa, namun namanya diabadikan oleh Allah Yang Maha Agung, dalam Al-Quran yang mulia. Bukan nabi dan bukan rasul, tapi namanya dijadikan nama surat. Hanya untuk diceritakan satu amal perbuatannya. Lelaki biasa itu adalah Luqman. Dan amal luar biasanya itu adalah; hadir dalam pengasuhan anaknya . Pertanyaan buat para ayah, jika memang kita lelaki sejati, beranikah kita mengerjakan amal agung ini? Selamat mengobrol akhir pekan bersama keluarga. === Muqorrobin, Bogor 11 Muharram 1445

Ternyata Mencari Nafkah Bukan Tugas Utama Ayah

Lebih tepatnya adalah memberi nafkah. Apa bedanya? Kalau Ayah hanya mencari nafkah, tapi tidak memberi nafkah (kepada keluarganya), itu namanya Ayah pelit. Nafkah itu ada yang lahir dan batin. Kepala keluarga selayaknya memberikan keduanya tuk seluruh anggota keluarga. Nafkah lahir mungkin mudah dibagi. Tinggal transfer. Nafkah batin? Sayangnya belum ada aplikasi yang dapat mentransfer kasih sayang, perhatian, dll. Maka, seorang Ayah perlu hadir dalam keluarga, tuk menunaikan kewajibannya memberikan nafkah batin tersebut. Nafkah lahir dan nafkah batin, sama-sama bikin lapar, kalau kekurangan. Anak-anak bukanlah hewan peliharaan, yang cukup diberi makan setiap hari untuk membuatnya patuh pada tuannya. Anak-anak adalah manusia, yang memiliki akal dan jiwa. Dia akan lebih patuh kepada yang dapat memenuhi kebutuhan batinnya itu. Jangan sampai para Ayah merugi. Sudah habis tuk anak-anak berbagai materi, tapi dari mereka tidak mendapat satu pun bakti. Atau malah harus mengurus be...

Sekolah Ayah?

Sebuah publikasi menyebut Indonesia sebagai fatherless country nomor 3 di dunia. Hal ini menunjukkan rendahnya kehadiran ayah dalam keluarga di Indonesia. Dalam sebuah diskusi di Komisi Perlindungan Anak Daerah Kota Bogor beberapa waktu lalu, muncul ide untuk membuat kegiatan "Sekolah Ayah", sebagai sarana yang mendorong Ayah agar lebih hadir dalam pengasuhan anak. Bisa jadi, mengadakan kegiatan sekolahnya mungkin tidak sulit, tapi yang sulit adalah mengajak Ayah hadir ke sekolahnya :). Para Ayah sering (merasa) sibuk dan lelah mencari nafkah, sehingga kalau ada waktu senggang atau libur, inginnya istirahat bukan sekolah. Di satu sisi, di banyak masjid komplek bisa dilihat begitu banyak ayah yang antusias mengikuti kajian ba'da subuh akhir pekan. Dan sebagiannya bahkan sudah berlangsung selama belasan tahun. Masya Allah. Bisa jadi, ini adalah salah satu pintu masuk yang bisa diberdayakan untuk mengedukasi para ayah, terkait hadir dalam pengasuhan anak. Jika d...