Langsung ke konten utama

Tongseng Hikmah


Seorang laki-laki dengan rambut kusut, badan berdebu, berperawakan kurus, tulang tubuhnya berbalur daging tipis.

Tapi ia bukan orang sembarangan, ia tercatat mengalahkan 100 musuh dalam laga _man to man_ di medan perang. Bahkan sengaja dilempar oleh rekan-rekannya ke dalam benteng musuh, untuk membuka pintu benteng sendirian dari dalam (padahal pasukan musuh berkumpul di dalamnya)!

Ini bukan tokoh fiksi dalam komik atau anime (yang kadang diselipi pornografi), tapi ini adalah tokoh asli yang hadir dalam sejarah. Al-Barra bin Malik radhiallahu 'anhu.

Lalu apa hubungannya sama Tongseng Hikmah?

Tongseng Hikmah adalah sebutan para santriwati Pondok Pesantren Al-Hassan untuk menu hari Jumat di dapur mereka.

Dinamakan Tongseng Hikmah, karena _sedikit sekali dagingnya, yang banyak itu hikmahnya._

Ketika putri kami menceritakan pengalamannya ini, maka kami ceritakan kisah Al-Barra bin Malik radhiallahu 'anhu.

Badannya kurus, berbalur daging tipis. Apa sih makanan beliau sehari-hari sehingga kok fisiknya seperti itu?

Inilah keberkahan. Bukan makanan bergizi, tapi makanan berkah.

Serupa dengan di pondok. Makanan yang dimasak oleh orang-orang yang menjaga sholat, yang diniatkan untuk energi penuntut ilmu bekal ke akhirat.

Bukan makanan yang dibuat oleh orang-orang yang korupsi dan diniatkan untuk memperkaya diri sendiri.

Keberkahan adalah sebuah dimensi berbeda dari hitung-hitungan ilmu manusia, dan sering dilupa.

Suatu ketika, para sahabat mengeluh karena makan terus tapi tidak kenyang. Maka Nabi ﷺ menyarankan mereka makan berjamaah, agar berkah [HR. Abu Daud no.3764].

Ya, agar berkah, bukan agar kenyang. Tidak menjawab keluhan sahabat, tapi justru di situlah letak hakikat.

Hitung-hitungan gizi dalam makanan itu ilmu manusia. Sedangkan berkah itu dimensi berbeda. Tidak sampai ilmu manusia ke sana.

Bukan berarti tidak perlu bergizi. Tapi, apa gunanya kalau kita melupakan berkah?


---
Bacaan: "Mereka Adalah Para Sahabat", DR. Abdurrahman Ra’fat Basya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Riba, Makna dan Larangannya

Riba dari segi bahasa berarti tambahan. Ia juga bisa berarti tumbuh, atau membesar. Adapun para ulama mendefinisikan riba sbb: Imam Malik meriwayatkan kepadaku bahwa beliau mendengar ‘Abdullah ibn Mas’ud pernah berkata, “Jika seseorang membuat pinjaman, mereka tak boleh menetapkan perjanjian lebih dari itu. Meski hanya segenggam rumput, itu adalah riba.” (Al-Muwatta Imam Malik : 31.44.95) Imam Mujahid berkata : “(Riba yang diharamkan pada masa jahiliyyah) adalah seseorang berutang pada orang lain, lalu si peminjam berkata, ‘Bagimu (tambahan) sekian dan sekian, dan berilah aku tempo’. Maka dia diberi tempo” (Tafsir at-Thabari, III:101) Imam Qatadah berkata “Riba jahiliyah adalah seseorang yang menjual barangnya secara tempo (kredit) hingga waktu tertentu. Apabila telah jatuh tempo dan si pembeli tidak mampu membayar, ia memberikan bayaran atas penangguhan” (Tafsir at-Thabari, III:101) Muhamad al-Qadhuri berkata: “Riba adalah faidah atau tambahan yang diambil dari p...

Kalimatullahi Hiyal 'Ulya

 إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٤٠ Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) , sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah) ; sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya , "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara yang tidak terlihat olehmu , dan dia menjadikan kalimat (seruan) orang-orang kafir itu rendah . DAN KALIMAT (SERUAN) ALLAH ITULAH YANG TINGGI . Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana . (QS. at-Tau...

Doa Wali Santri untuk Anak di Pondok

  (… sebutkan nama anak …)  اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ اَللَّهُمَّ فَقِّهُّ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ اللَّهُمّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ اللَّهُمّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبَهُ، وَنُوْرَ صَدْرَهُ، وَجَلاَءَ حُزْنَهُ، وَذَهَابَ هَمَّهُ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لَهُ شَأْنَهُ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْهُ إِلَى نَفْسِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ Artinya: “Ya Allah rahmatilah (nama anak), Ya Allah pahamkanlah ia agama-Mu, dan ajarkanlah tafsir kepadanya (1), Ya Allah ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya (2), Ya Allah jadikanlah Al-Quran hiburan di hatinya, cahaya di dadanya, penghapus kesedihannya, dan penghilang kegelisahannya (3), Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon, perbaikilah segala urusan anakku, jangan serahkan kepada dirinya sendiri walau hanya sekejap mata (4). Ya Rabb, anugerahkanlah aku anak yang ...