Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla berkata;
"Andaikata Ramadhan itu 29 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-20. Sehingga, laylatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-20, atau ke-22, atau ke-24, atau ke-26, atau ke-28. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir."
Di antara yang menguatkan pendapat malam ke-24 ada Anas dan Hasan, Abu Said Al-Khudri dan Abu Dzar. Bahkan Hasan Al-Bashri mengatakan,
رَقَبْتُ الشَّمسَ عشرين سنة، ليلَة أربع وعشرين، فكانت تطلعُ لا شُعاعَ لها
“Aku memperhatikan matahari selama dua puluh tahun. Pada malam ke-24 esok harinya, matahari terbit tidak bersinar tajam (sebagai tanda Laylatul Qadar)”
[Lathaiful Ma'arif hlm.355]
Lho kok?
Tidak perlu bingung, karena Nabi shallallahu 'alayhi wasallam yang memerintahkan mengejar di malam ganjil sekalipun tetap i'tikaf full 10 hari tidak pulang.
Menarik mendengar penjelasan pakar tafsir Indonesia Syaikh Dr. Saiful Bahri; bahwa Allah memakai frasa _khairum min_ (lebih dari) ketika menjelaskan perbandingan Laylatul Qadar dengan 1000 bulan.
Namanya lebih dari 1000 ya bisa berapa aja, unlimited.
Bagi yang mengejar di salah satu malam ganjil saja mungkin Allah beri pahala 1001 bulan. Tapi yang mengejar dari tanggal 24 sd akhir bisa dapat ganjaran 100ribu bulan dari Allah. Yang fokus dari awal asyrul awakhir sampai husnul khatimah bisa jadi dikasih Allah ganjara sejuta bulan.
Intinya lebih dari 1000 bulan. Dan perbedaanya bisa sangat jomplang antara yang mengincar satu hari, dan mengoptimalkan lebih banyak hari. Silahkan pilih sendiri mau "digaji" berapa.
Allah Maha Adil, Allah Maha Bijaksana, Allah Maha Pemberi.
Allaahumma innaka 'Afuwwun Kariim, tuhibbul 'afwa, fa'fu'annaa Yaa Kariim...
Komentar
Posting Komentar