Langsung ke konten utama

Seorang Pria yang Melewati Duka dengan Mandi di Kali...



Alkisah, bertanya seseorang pada para sahabatnya; “Bagaimana pendapat kalian jika ada sebuah sungai di dekat pintu rumah seseorang, lalu ia mandi lima kali sehari di sana? Apakah masih ada kotoran yang tersisa pada tubuhnya?”

“Tentu tidak akan tersisa kotoran sedikitpun,” jawab sahabatnya.

“Maka begitulah perumpamaan sholat lima waktu, Allah menghapuskan dosa-dosa dengannya”

Demikian kira-kira percakapan manusia terbaik sepanjang sejarah dengan para sahabatnya, sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya. 

Jika sholat dapat menyelamatkan seorang manusia dari kedukaan abadi di akhirat, tentu lebih mudah lagi, untuk sekedar menghapus kedukaan yang fana di dunia.

Nabi yang sama, shallallahu ‘alaihi wasallam, juga pernah berkata pada muadzzin kesayangannya; 

يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat” [HR. Ahmad]

Sholat menjadi tempat istirahat karena ia menyadarkan kembali seorang manusia akan Kemahabesaran Allah. Itulah di antara hikmah mengapa panggilan adzan dimulai dengan Allahu Akbar. 

Hati yang bisa meresapi makna ini dalam sholatnya, akan merasa tenang dari segala kedukaan dunia, karena semua menjadi kecil sekecil-kecilnya, di hadapan Allah Yang Maha Besar. Siapakah tempat curhat terbaik? Dzat Penguasa langit bumi-lah jawabannya. Dzat Yang Maha Penyayang sekaligus Maha Bijaksana. Beruntunglah mereka yang keimanannya, membuat sholat menjadi tempat istirahatnya. 

Sungguh rugi, mereka yang perlu menunggu Sabtu Ahad untuk istirahat. Atau perlu wisata yang mahal dan jauh, agar jiwanya bisa healing atau sembuh. 

Banyak pula yang mencari penghapus duka dari teori-teori buatan manusia. Padahal Produsen Kehidupan sudah menginformasikan di "buku manual"; bahwa jiwa punya tempat rehat, lima kali setiap hari, gratis.

Rabbij’alnii muqiimash-sholaati wa min dzurriyyatii

"Yaa Rabb, jadikanlah kami orang-orang yang menegakkan sholat, demikian juga anak keturunan kami."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Doa Wali Santri untuk Anak di Pondok

  (… sebutkan nama anak …)  اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ اَللَّهُمَّ فَقِّهُّ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ اللَّهُمّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ اللَّهُمّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبَهُ، وَنُوْرَ صَدْرَهُ، وَجَلاَءَ حُزْنَهُ، وَذَهَابَ هَمَّهُ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لَهُ شَأْنَهُ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْهُ إِلَى نَفْسِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ Artinya: “Ya Allah rahmatilah (nama anak), Ya Allah pahamkanlah ia agama-Mu, dan ajarkanlah tafsir kepadanya (1), Ya Allah ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya (2), Ya Allah jadikanlah Al-Quran hiburan di hatinya, cahaya di dadanya, penghapus kesedihannya, dan penghilang kegelisahannya (3), Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon, perbaikilah segala urusan anakku, jangan serahkan kepada dirinya sendiri walau hanya sekejap mata (4). Ya Rabb, anugerahkanlah aku anak yang ...

Doa dan Kesombongan

Suatu ketika Urwah bin Zubair (cucu Abu Bakr dr Asma') menyaksikan seorang laki laki shalat dg tergesa gesa dan tidak ihsan. Ia pun menegurnya dengan pertanyaan yang bijak, "Wahai putra saudaraku, bukankah engkau mempunyai kebutuhan kepada Allah 'azza wa jalla?" Ia melanjutkan, "Demi Allah. Dalam shalatku, aku memohon segala sesuatu kepada Allah subhanahu wa ta'ala, termasuk garam pun aku mohon." Subhanallah. Begitu mendalamnya pemahaman akan hauqalah, sampai garam pun dimintanya kepada Allah. Bagaimana dengan kita? Tanpa disadari, adakah sedikit sifat-sifat Qarun dalam diri kita? "Sekedar garam saja sih, bisa saya dapatkan dengan usaha sendiri, tak perlu bantuan Allah" Bukan berarti kita wajib berdoa meminta garam, namun penghambaan dan kesyukuran kita kepada Sang Pemberi-lah yang harus selalu kita tingkatkan dalam setiap sisi kehidupan kita. Terkadang kita pun membawa "sunnatullah" sebagai pengalih isu akan kurangnya munajat kita. ...

Kalimatullahi Hiyal 'Ulya

 إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٤٠ Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) , sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah) ; sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya , "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara yang tidak terlihat olehmu , dan dia menjadikan kalimat (seruan) orang-orang kafir itu rendah . DAN KALIMAT (SERUAN) ALLAH ITULAH YANG TINGGI . Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana . (QS. at-Tau...