Langsung ke konten utama

Hari-Hari Terberat


Lelaki kekar itu terguncang jiwanya. Raganya yang kuat seakan tak mampu menopang beratnya hari itu. Seakan plot twist dari histori hidupnya yang powerfull dan penuh keberanian; setan pun disebut takut bertemu dengannya.

Di hari itu, orang yang paling dicintainya diberitakan meninggal dunia. Dia terguncang, tak percaya. Bahkan mengancam memenggal bagi siapa yang berani menyebarkan berita yang dianggapnya hoax itu.

Inilah cinta. Walau akhirnya hatinya kembali tenang, benar-benar tenang. Ketika sahabat terbaiknya, membacakan perkataan Allah yang mulia.

Inilah kisah Umar dan Abu Bakar, ketika orang tercinta mereka meninggalkan dunia.

Cinta, bisa membuat terguncang. Namun, cinta juga ternyata adalah cara tercepat mencapai surga tertinggi. Yang paling tinggi, tidak ada lagi di atasnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda; “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai” [HR. Bukhari].  

Umar radhiallahu ‘anhu pernah ditegur Nabi ketika mengatakan bahwa ia mencintai Nabi lebih dari siapapun setelah dirinya sendiri. Setelah ditegur, ia pun segera mereset hatinya dan menyampaikan bahwa ia mencintai Nabi lebih dari siapapun. Inilah cara Umar mencapai surga tertinggi. Cinta nomor satunya untuk manusia yang paling tinggi surganya .

Pertanyaannya, jika Umar pernah terguncang jiwanya karena ditinggal Nabi, apakah kita pernah merasakan yang sama?

Jika kita pernah meneteskan air mata untuk keluarga tercinta yang meninggal dunia, pernahkah kita meneteskan air mata karena tak bisa berjumpa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? 

Jika kita pernah posting status kangen mengenang keluarga yang telah tiada, apakah kita termasuk yang memasang status kangen kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?

Jika hati kita bisa dibuat merasa seperti itu, niscaya surga tertinggi menanti. Tidak ada lagi surga di atasnya. Kita akan berdiri di sebelah Nabi, Abu Bakar, dan Umar... Apalagi kalau kita bisa mengajak orang tua kita, pasangan kita, anak-anak kita berdiri bersama.. Yaa Rabb.

Bisakah kita mempunyai cinta, rindu, dan kangen yang sedemikian rupa khusus untuk Sang Nabi?

 Allahumma shalli wa sallim 'ala nabiyyinaa Muhammad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Doa Wali Santri untuk Anak di Pondok

  (… sebutkan nama anak …)  اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ اَللَّهُمَّ فَقِّهُّ فِي الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ اللَّهُمّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ اللَّهُمّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبَهُ، وَنُوْرَ صَدْرَهُ، وَجَلاَءَ حُزْنَهُ، وَذَهَابَ هَمَّهُ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لَهُ شَأْنَهُ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْهُ إِلَى نَفْسِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ Artinya: “Ya Allah rahmatilah (nama anak), Ya Allah pahamkanlah ia agama-Mu, dan ajarkanlah tafsir kepadanya (1), Ya Allah ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya (2), Ya Allah jadikanlah Al-Quran hiburan di hatinya, cahaya di dadanya, penghapus kesedihannya, dan penghilang kegelisahannya (3), Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon, perbaikilah segala urusan anakku, jangan serahkan kepada dirinya sendiri walau hanya sekejap mata (4). Ya Rabb, anugerahkanlah aku anak yang ...

Riba, Makna dan Larangannya

Riba dari segi bahasa berarti tambahan. Ia juga bisa berarti tumbuh, atau membesar. Adapun para ulama mendefinisikan riba sbb: Imam Malik meriwayatkan kepadaku bahwa beliau mendengar ‘Abdullah ibn Mas’ud pernah berkata, “Jika seseorang membuat pinjaman, mereka tak boleh menetapkan perjanjian lebih dari itu. Meski hanya segenggam rumput, itu adalah riba.” (Al-Muwatta Imam Malik : 31.44.95) Imam Mujahid berkata : “(Riba yang diharamkan pada masa jahiliyyah) adalah seseorang berutang pada orang lain, lalu si peminjam berkata, ‘Bagimu (tambahan) sekian dan sekian, dan berilah aku tempo’. Maka dia diberi tempo” (Tafsir at-Thabari, III:101) Imam Qatadah berkata “Riba jahiliyah adalah seseorang yang menjual barangnya secara tempo (kredit) hingga waktu tertentu. Apabila telah jatuh tempo dan si pembeli tidak mampu membayar, ia memberikan bayaran atas penangguhan” (Tafsir at-Thabari, III:101) Muhamad al-Qadhuri berkata: “Riba adalah faidah atau tambahan yang diambil dari p...

Kalimatullahi Hiyal 'Ulya

 إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٤٠ Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) , sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah) ; sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya , "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara yang tidak terlihat olehmu , dan dia menjadikan kalimat (seruan) orang-orang kafir itu rendah . DAN KALIMAT (SERUAN) ALLAH ITULAH YANG TINGGI . Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana . (QS. at-Tau...