Mubazir sendiri bukan hal sepele, karena Al-Quran bilang;
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
"Sesungguhnya para mubazziriin adalah saudara-saudaranya setan, dan setan itu sangat kufur kepada Tuhannya."
Jadi mubazir itu saudaranya setan, dan tanda kufur nikmat kepada Allah.
Dalam konteks makanan, kemubaziran bisa terjadi dua jenis.
Pertama, mubazir karena menyisakan makanan sehingga dibuang.
Kedua, mubazir karena berlebihan makan sehingga jadi penyakit.
Aslinya tidak butuh, bahkan berbahaya, tapi karena hawa nafsu, dimasukkan juga ke dalam perut. Mubazir.
Contohnya penderita diabetes yang meminum es teh manis.
Dilema kedua jenis kemubaziran terkadang muncul ketika menghadapi makanan gratis.
Ada tawaran nasi box gratis, tapi lagi diet nasi, jadi nasi cuma mau makan setengah.
Kalau dimakan semua bertentangan dengan diet kesehatannya, kalau ga dimakan mubazir.
Bingung?
Sebenarnya ga usah bingung. Tinggal tolak aja nasi boxnya. Atau ambil tapi kasih ke orang lain yang lebih membutuhkan.
Orang yang masih bisa milih-milih makan, misal ga makan sayur, makan ga habis dll, lalu membiarkannya terbuang, itu tandanya bukan orang susah.
Maka tidak menerima makanan gratis itu pun gapapa.
Orang yang benar-benar kesulitan makan, akan bersyukur dan memakan semua yang diberikan.
Perlu diakui, keinginan makan kita kebanyakan dari hawa nafsu, bukan karena darurat perlu makan.
Mubazir itu amalan saudara setan dan tanda kufur nikmat, mari berusaha seoptimal mungkin menghindarinya.
Komentar
Posting Komentar