Setelah mengkaji sirah Nabawiyah panjang lebar dalam beberapa sesi, ustadz pemateri menyampaikan sebuah hikmah bahwa;
Jangan menganggap bahwa asal negara dipimpin orang shalih, doktor lulusan Madinah misalnya, dan menterinya para ulama semua, lalu tidak ada lagi masalah.
Bahkan zaman Nabi ﷺ menjadi "Presiden" saja, orang munafik tetap beredar, pengkhianatan tetap terjadi, ada orang berzina, ada orang mencuri, bahkan ada fitnah selingkuh istri Nabi ﷺ yang sangat viral!
Apalagi zaman kita?
Fitnah akan terus bergulir sesuai zamannya. Di setiap zaman, setiap manusia mempertanggung- jawabkan amalnya masing-masing.
Berada di zaman kepemimpinan emas, bukan berarti kita pasti selamat.
Hidup di Mekkah di zaman Nabi ﷺ, belum tentu kita termasuk golongan yang selamat.
Kata ustadz, bayangkan, tinggal di kampung pedalaman di padang pasir, tidak dikenal di peradaban2 besar di zaman itu, tetiba ada yang ngaku Nabi dan menyuruh antum beriman, dan membelanya dengan harta dan nyawa, kira-kira antum akan jadi Abu Bakr atau Abu Jahl?
Maka, siapapun pemimpin kita, ceklah amal-amal kita pribadi, apakah membawa kita selamat di akhirat, atau kena azab.
Bahkan sering kali, pemimpin itu cerminan amal-amal kita.
Seperti kata sepupu Nabi ﷺ ketika ditanya tentang kepemimpinannya, kenapa tidak seperti masa Abu Bakr dan Umar,
Maka dijawab,
"Karena rakyat mereka berdua adalah orang-orang yang seperti aku dan Utsman, sementara rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu.”
Betul, berkata benar di hadapan pemimpin zhalim termasuk jihad tertitinggi. Tapi jangan lupa dengan dosa-dosa pribadi.
Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad.
Komentar
Posting Komentar