Mungkin karena saya orang Betawi, di antara kesan yang teringat dari latahnya para orang tua kami terhadap kondisi yang tidak sesuai adalah ucapan: "astaghfirullah al'adziim..!"
Ketika ada orang ribut tengah malam, "astaghfirullah al'adziim, ga tahu apa orang pada tidur?!"
Ketika ada anak kecil telanjang lari-larian di jalanan, "astaghfirullah al'adziim, ga diajarin apa sama emaknya?!"
Termasuk ketika perempatan jalan semrawut karena lampu merah mati, "astaghfirullah al'adziim, gimana sih ini polisi kagak bantuin ngatur?!"
Nyinyir2 mereka, dalam kesan dan ingatan saya, sering didahului istighfar. Minta ampun dari dosa. Dan ini ternyata memang tercantum dalam dalil-dalil syariat; bahwa keburukan yang terjadi pada kita, atau di sekitar kita, itu karena ada dosa kita juga.
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
Bahkan hal-hal buruk itu "cuma" karena sebagian kecil dari dosa kita. Sedangkan banyak kesalahan sudah Allah maafkan!
Alangkah baiknya, kalau di zaman medsos ini pun, kita lazimkan istighfar dalam setiap "nyinyir" kita.
Hati-hati terlalu pede bahwa kondisi kita saat ini, tidak ada urusan dengan dosa-dosa kita pribadi. Murni pokoknya yang salah, yang dosa, yang maksiat cuma si dia dan si mereka.
Tuk mengubah keadaan, perlu tetap bersuara, dan berikhtiar. Tapi mengapa tidak dibarengi sekalian memperbanyak istighfar?
Mungkin ada yang berlasan "Istighfar ga perlu dipublikasi!"
Ya kali, istighfar ga perlu dipublikasi, tapi nyinyir perlu disebar ke mana2.
Nyinyir yang dipublikasi tuk ngajak orang sadar dan melawan?
Maka istighfar yang dipublikasi juga tuk ngajak orang sadar bahwa kondisi ini juga akibat dosa-dosa kita.
Astaghfirullah al'adziim
Komentar
Posting Komentar