Nyerinya langsung hilang. Tapi sejak saat itu, lutut kiri tidak bisa ditekuk lama, seperti saat bersila atau duduk antara dua sujud. Hanya tahan 10-an detik. Lebih dari itu, lutut akan tidak nyaman, dan saat berdiri, perlu waktu penyesuaian hingga bisa mulai berjalan.
Sebulan berlalu, tidak ada perubahan, hingga coba diurut dengan tukang urut Cimande. Beberapa menit selesai diurut seperti terasa baikan, tapi tidak bertahan lama. Sebulan lagi berlalu tanpa perubahan, akhirnya diurut lagi, dan hasilnya tetap sama.
Sebulan lain pun berlalu. Akhirnya konsul via chat ke teman SMA yang dokter spesialis kesehatan fisik dan rehabilitasi. Dianjurkan langsung ke dokter, karena sudah lama, hingga perlu dicek langsung. Jadilah ke RS untuk dicek dokter spesialis orthopedi. Hasilnya ada dua kemungkinan; pertama disuntik obat dengan total biaya sekitar 3 juta, dan kedua, jika yang pertama tidak behasil, maka di-scan MRI untuk memastikan perlu tidaknya operasi. Akhirnya saya putuskan tidak ambil tindakan apapun, karena tidak merasa kondisinya darurat.
Mulailah mencari di internet kemungkinan self-healing untuk kondisi seperti ini. Dokter orthopedi juga sempat bilang ada kemungkinan bisa sembuh sendiri, setelah 2-3 tahun katanya.
Hasil searching sendiri, inspirasi pertama datang dari seorang nenek Roshni, asal India. Usia 60 tahun didiagnosis nyeri lutut dan tulang belakang, yang kata dokternya, itu sudah karena usia, dan tidak bisa diapa-apakan. Ternyata sang nenek berhasil sembuh dengan bantuan anaknya yang mengajaknya ke gym. Bahkan ia viral di India karena akhirnya mampu mengangkat beban 100 kg.
Inspirasi lainnya adalah kakek Didik asal Tangerang, runner usia 63 tahun, yang dulunya ketika muda didiagnosa saraf kejepit tapi malah membaik ketika mulai rutin lari.
Algoritma medsos saya yang banyak bertema kesehatan juga membuat mudah bertemu dengan konten-konten dari para pakar kesehatan alami dan self-healing. Di antaranya konten dari Jessie Inchauspe (pakar biokimia), Barbara Oneil (narsum seminar kesehatan yang dilarang masuk Australia karena ajarannya terlalu ekstrim), Marion Nestle PhD (pakar gizi), dr. Pradip Jamnadas Sp.JP dari RS Florida, AS, termasuk ulasan buku Dr. Gabriel Lyon, Forever Strong.
Kesimpulan saya pribadi, tubuh secara umum bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Sama seperti ketika tergores, maka lukanya akan menutup sendiri. Bahkan tulang patah saja bisa tersambung kembali.
Hasil dari berbagai bacaan tersebut, akhirnya saya mencoba merumuskan prinsip-prinsip yang mendukung self-healing tubuh secara umum;
1. Harus ada jeda tidak makan yang cukup, agar tubuh bisa melakukan maintenance dan recovery. Beberapa artikel merujuk pada angka 12-16 jam tanpa makan sama sekali.
2. Sebisa mungkin kontrol lonjakan gula darah, karena setiap lonjakan glukosa adalah peradangan yang memperberat recovery.
2. Perlu hidrasi yang baik, karena operasional internal tubuh akan berjalan optimal dengan hidrasi.
3. Tidur yang cukup dan berkualitas.
4. Olahraga beban untuk memperkuat otot sebagai kunci kesehatan sendi dan tulang. Beberapa artikel merujuk pada Pull-Up dan Dead Hang sebagai olahraga yang baik untuk memperbaiki kondisi tulang dan otot.
Dari prinsip-prinsip tersebut, saya mencoba membuat menu untuk saya sendiri;
1. Berhenti makan antara jam 4 sore sampai dengan jam 6 pagi besoknya, di jam tsb hanya minum tawar saja.
2. Puasa dua hari dalam sepekan dengan makan buka puasa maksimal berhenti di jam 8 malam.
3. Perbanyak makan sayur/serat sebelum makan apapun untuk mengontrol lonjakan gula darah.
4. Minum air putih yang banyak.
5. Berupaya tidur jam 10 malam, atau maksimal jam 11.
6. Olahraga beban; push up 20x 2 dan pull-up 5x 2 (pagi dan sore), plus dead hang 30detik x 2. Pelaksanaannya fleksibel, ada hari yang kurang, ada juga yang lebih. Saya beli Pull-up Bar untuk di rumah seharga 150 ribuan. Opsi lain bisa pakai tiang arena bermain yang kadang ada di taman komplek :)
Walhamdulillah, 1 bulan berjalan, nyeri mulai berkurang. Dan setelah sekitar 2 bulan, bisa dibilang sudah tidak terasa sama sekali. Sungguh sesuatu yang luar biasa, mengingat sebelumnya selama berbulan-bulan, tidak ada perubahan sama sekali. Sempat ada opsi membayar obat 3 jutaan bahkan lebih, tapi ini malah cukup bermodal pull bar saja. Bahkan bisa hemat biaya makan sehari-hari karena pembatasan makan.
Proses kesembuhan ini mengingatkan saya pada ayat Allah ta'ala;
Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim
"Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya".
Masih banyak misteri kesehatan tubuh manusia yang belum terungkap dengan ilmu medis modern sekalipun. Bukan berarti tidak percaya dengan ilmu medis modern. Namun ilmu medis bukan mentoknya segala pengetahuan kesembuhan. Sebagaimana salah satu permintaan yang pernah dipanjatkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam;
...walaa taj'alid dunya akbara hamminaa, walaa mablagha 'ilminaa..
"..dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai harapan terbesar kami, dan mentoknya ilmu kami ..."
Nenek Roshni dan Kakek Didik menjadi inspirasi tersendiri terkait bagaimana mencari alternatif kesembuhan. Menu yang saya coba lakukan pun, disesuaikan dengan kesanggupan, dan tidak ada yang ekstrim sama sekali; sekedar batasi makan, perbanyak minum, perbaiki tidur, dan rutin olahraga beban walau sedikit. Nothing to lose.
Allahul musta'an.

Komentar
Posting Komentar