Langsung ke konten utama

Postingan

Pahala dan Dosa Sama-Sama Dilipatgandakan

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ Artinya, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu,” [QS. At-Taubah ayat 36] Sesuai hadits, yang dimaksud bulan haram adalah Dzulqa'dah, DZULHIJJAH, Muharram, dan Rajab. Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi (w. 516 H) yang bergelar Muhyis Sunnah  (penghidup sunnah), dalam kitab tafsirnya menjelaskan; " Amal saleh lebih agung  pahalanya di dalam bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Sedangkan zalim pada bulan tersebut (juga) lebih besar (dosanya)  dari zalim di dalam bulan-bulan se...

Ketika Egois Ingin Mahkota di Surga

Tidak sedikit orang tua yang berharap hadiah di surga dari anak-anaknya dengan mengupayakan mereka agar menjadi penghafal Quran. Mulai dari menyekolahkan di pesantren Quran yang tidak murah, sampai memenuhi semua kebutuhannya agar sang anak bisa fokus menghafal Kitabullah. Tapi, lupakah bahwa kita, para orang tua, sebenarnya juga adalah anak dari orang tua kita yang punya _kewajiban_ yang sama; memberikan hadiah terbaik kepada orang tua kita di surga kelak. Seorang ustadzah menceritakan celotehan anaknya yang penghafal quran; "Ibu jangan egois.... berharap mahkota di surga dari kami dengan menyuruh kami menghafal quran, tapi ibu tidak berupaya memberikan mahkota yang sama untuk Enin dengan menghafal quran". Setiap kita adalah anak, sudahkah kita siapkan hadiah terbaik untuk orang tua kita di akhirat kelak? === Bogor,  Catatan Munaqosyah Al-Quran SDIT QA Baitussalaam ±17 Hari menuju Arofah 1443

Hikmat Disyariatkannya Berkurban

Sebagai bentuk syukur kepada Allah dan menghapus dosa-dosa. Jadi sebagai bentuk syukur  kita selama setahun terakhir  (karena kurban disyariatkan di akhir tahun hijriah), atas nikmat Allah; keluarga sehat, dapat bonus gaji, anak lulus dll, maka berkurbanlah. Demikian juga, untuk menghapus dosa  dan kesalahan yang mungkin lupa kita bertaubat akannya dalam setahun ini; pernah ngomong kasar ke anak istri, perilaku buruk pada tetangga dll, maka berkurbanlah. Dan, dalam mencapai tujuan tersebut, jangan memakai prinsip ekonomi konvensional dalam ibadah ini; Mengeluarkan sesedikit mungkin untuk pahala sebesar mungkin ❌ Mengeluarkan yang terbaik untuk pahala yang terbaik ✅ === Kajian Shubuh,  20 Hari menuju Idul Adha 1443

Umat Islam Tidak Bisa Kembali (Langsung) kepada Al-Quran dan Sunnah

Realitanya seperti itu. Jika umat ini mampu, maka Imam Syaf'i tidak perlu menulis kitab Ar-Risalah untuk merumuskan kaidah fiqih. Imam Ibnu Katsir juga tidak perlu menulis kitab Tafsir Al-Quran Al-'Azhim. Imam Ibnu Hajar juga tidak perlu menulis kitab syarah hadits Bukhari; Fathul-Bari. Demikian juga para Imam dari masa ke masa tidak perlu menulis banyak kitab, jika umat ini dianggap mampu memahami syariat hanya dari membaca teks Al-Quran dan Sunnah. Di antara penyebab gesekan dan perselisihan internal umat yang terjadi saat ini adalah karena umat yang awam mencoba menyimpulkan halal-haram  hanya dengan membaca teks Al-Quran dan Sunnah. Itu pun hanya membaca terjemahannya. Jadi bukan kembali kepada Al-Quran dan Sunnah, namun baru kembali kepada terjemahannya saja. Lebih parahnya, ada yang mencoba menyelisihi dan menyalahkan pendapat para Imam, dengan bekal terjemahan tersebut.  Semoga Allah menuntun kita untuk sabar dan rendah hati, terus menimba ilmu dari para imam dan ulama....

Cara Sederhana Menjadi Ahli Surga

Pernah ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan dia mengatakan: ”Tunjukkanlah aku kepada satu amalan yang apabila aku mengamalkanya aku akan masuk surga.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: ”Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan engkau menunaikan shalat yang fardhu,  serta engkau menunaikan zakat yang wajib, serta melakukan puasa di bulan Ramadhan.” Maka Arab Badui itu mengatakan: ”Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, aku tidak akan menambah lagi selain dari amalan-amalan ini.” Maka tatkala Arab Badui itu sudah berpaling, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa siapa senang melihat seseorang dari ahli surga, maka hendaknya dia melihat kepada orang tersebut.” (Hadits riwayat Bukhari no.1397 dan Muslim no.14) Kecerdasan seorang badui dalam bertanya kepada Rasulullah saw, menjadikan kita mendapatkan petunjuk to the point yang praktis dan sederhana untuk masuk s...

Jangan Ajari Anak Menjadi Peminta-minta di Hari Raya

"Ada om tuh, salim sana biar dapat uang" "Ayo ke rumah teman ayah, nanti di sana dapat amplop" "Tante mana nih THR-nya buat ponakan?"  Dan ucapan sejenis seolah menjadi penghias pembicaraan di hari raya. Kasihan rasanya, bila anak-anak diajarkan untuk menjadi peminta-minta kepada sesama manusia sejak kecil. Padahal Islam tidak menyukai perbuatan meminta-minta. "Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api" (HR. Ahmad). Bahkan Islam mengajarkan untuk menjadi manusia yang memberi manfaat, bukan sebaliknya. "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia" (HR. Ahmad dan Thabrani). Alangkah indah jika di hari raya anak-anak justru diajarkan untuk menjadi pemberi manfaat kepada orang lain; membantu cuci piring di rumah bude yang sedang tidak ada ART, mengatur sandal tamu yang berantakan di rumah eyang, atau dibekali snack kemasan jumbo agar berbagi bersama sepupu-sepupunya. Hati...

4 Hakikat Hari Raya Kita

Ulama menjelaskan bahwa di antara hakikat hari raya bagi orang-orang beriman adalah sebagai berikut; 1. Hari saat kita melewati satu hari tanpa kemaksiatan sedikit pun.  Inilah kemenangan sejati seorang muslim terhadap musuh sejatinya; setan. Karenanya, jangan sampai di waktu-waktu berhari raya ini, ada kemaksiatan yang kita lakukan; melalaikan sholat, berkata jorok, bohong walau bercanda, akhlak tercela, dll. 2. Hari saat kita mati dengan husnul khatimah. Saat ucapan terakhir kita di dunia adalah Laa ilaaha illalLaah. Mari ringankan lisan kita selama hidup untuk berdzikir kepada Allah, agar saat sakaratul maut Allah ringankan lisan kita untuk menyebut kalimat thayyibah. 3. Hari saat kita bisa melewati ash-shirath (jembatan di atas neraka) dengan lancar.  Ulama menasehati bahwa latihan agar langkah menjadi ringan saat di shirath nanti adalah dengan banyak meringankan langkah shalat berjamaah ke masjid. Bagaimana mau lancar berjalan di atas shirath  , sedangkan berjalan ...