Langsung ke konten utama

Postingan

Seri Kehidupan Muslim di Jepang: Mempertahankan Keislaman

Istiqomah untuk Da’wah Menunjukkan identitas sebagai Muslim bukan hal yang mudah. Tetapi, sekali menunjukkan keteguhan hati dengan cara yang baik, orang Jepang akan menghormatinya. Dan sekali meremehkan masalah keyakinan, sulit membangunnya kembali. Dilemma yang sering dihadapi para mahasiswa baru di Jepang adalah bagaimana cara menghindari tawaran bir dalam pesta perkenalan dengan profesornya. Banyak orang yang menolaknya dengan baik sambil menjelaskan bahwa dirinya Muslim yang dilarang minum minuman keras. Biasanya orang Jepang segera menghargainya dan segera memesankan juice. Saat pertama bertemu itulah menunjukkan kebaikan yang luar biasa. Tetapi, banyak pula yang mengorbankan keyakinan hanya demi pergaulan, mereka merasa tabu menolak tradisi Jepang dan takut hubungan baik dengan profesornya akan rusak karena penolakannya. Menurut pengalaman teman-teman yang berani menjaga keyakinannya, faktor utama untuk menjaga pergaulan yang baik dengan profesornya adalah kesungguhan beker...

Bekal Merajut Cinta

Ibarat masakan, selalu manis menimbulkan kebosanan. Adanya asin, pedas, bahkan pahit justru memberikan nuansa kenikmatan. Demikian pula dengan hubungan antar manusia. Jika takut bermasalah, tak perlulah merajut cinta. Jika khawatir ada friksi, berhentilah menjadi kawan. Jika tak suka pada kekurangan manusia, carilah sahabat selain manusia, yang tak hidup, mungkin. Karena hidup menuntut dinamika. Berpindahnya rasa dari manis, kepada asin, kepada pedas, bahkan kepada pahit, justru menjadikannya nikmat. Dinamika ini adalah niscaya. Jika jiwa merasa bermasalah dengan dinamika, maka masalahnya ada di dalam jiwa, bukan pada dinamika. Bayangkan, jerapah dan banteng berlarian di sabana, gajah yang sedang bermandikan air kubangan, juga rusa-rusa yang sedang beradu tanduk. Tampak menyenangkan penuh daya tarik. Coba pindahkan adegan tersebut ke halaman rumah kita. Jangankan jerapah dan banteng, apalagi gajah dan rusa-rusa, seekor tikus pun cukup membuat kehebohan. Di manakah letak per...

Pengantar Kedokteran ala Nabi (ath-Thibbun Nabawy)

Sebagai pengantar memahami kedokteran ala Nabi, ada baiknya kita perhatikan prinsip dasar berikut: 1. Kedokteran ala Nabi bukanlah perkara yang sempit dan terbatas pada contoh praktis tertentu, tapi juga mencakup kaidah-kaidah yang menjadi dasar untuk pengembangan medis secara lebih luas. Dalil utama dari prinsip ini adalah apa yang sering disebutkan Nabi saw dalam beberapa hadits beliau; "Tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Allah menurunkan obatnya" (Hr. al Bukhari). Maksud "obatnya" di sini tidaklah terbatas apa yang pernah Nabi saw praktikkan, namun lebih luas dari itu. Jika kita hanya berpegang pada praktik medis Nabi saw, maka rujukan dalam kedokteran Nabi akan menjadi sangat terbatas, padahal kedokteran itu mencakup hal yang sangat luas. Tidaklah mungkin semuanya dirangkum dalam praktik keseharian Nabi saw. Hal ini serupa dengan bahasan fiqih. Tidak bisa disangkal bahwa banyak perkara-perkara yang belum terjadi di zaman Nabi saw sehingga ti...

Adab-Adab Safar

Di antara adab-adab safar adalah: -> Meninggalkan bekal bagi yang ditinggalkan (khadimat dll). -> Berdoa terhadap yang ditinggalkan أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِيْ لاَ تَضِيْعُ وَ دَائِعُهُ "Aku titipkan kamu sekalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya." (HR. Ahmad, Hadits hasan) [doa org yg ditinggal kepada musafir: أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَ أَمَانَتَكَ وَ خَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ "Aku menitipkan agamamu, amanahmu dan perbuatanmu yang terakhir kepada Allah." (HR Ahmad, hasan) ] -> Pergi berjamaah. Doa safar menggunakan lafazh orang jamak, salah satu tanda dianjurkannya safar bersama. -> Menunjuk salah seorang sbg pemimpin. -> Berdoa keluar rumah. بِسْمِ اللَّهِ ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّه "Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja" (HR Abu Dawud da Tirmidzi, shahih) -> Berdoa...

Sedekah di Hari Jumat

Sebelum membahas tentang sedekah di hari Jumat, kita bahas sejenak keutamaan hari jumat itu sendiri. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْ عِيدًا، فَاغْتَسِلُوا، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ Wahai kaum muslimin, sesungguhnya saat ini adalah hari yang dijadikan oleh Allah sebagai hari raya untuk kalian. Karena itu, mandilah dan kalian harus menggosok gigi (HR Thabrani dalam Mu’jam Ash-Shaghir, dan dinilai sahih oleh Al-Albani) Dalam hadits lain dikatakan “Sesungguhnya, hari Jumat adalah hari raya. Karena itu, janganlah kalian jadikan hari raya kalian ini sebagai hari untuk berpuasa, kecuali jika kalian berpuasa sebelum atau sesudah hari Jumat.” (HR Ahmad dan Hakim; dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth) Dan masih banyak lagi dalil2 tentang hari Jumat. Sebagaimana layaknya hari raya islam, hari Jumat pun mmiliki amalan2 khusus yang diajarkan secara khusus oleh al Musthofa shallallahu 'alayhi wasallam. Amalan2 khusus ha...

Iman Kepada Allah: al Khaliq (Maha Pencipta)

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Tentu kita tahu ayat apa yang barusan kita baca di atas. Ialah ayat agung yang diturunkan pertama kali ke muka bumi, sebagai awal dimulainya risalah mulia penyelamat seluruh manusia. Jika diperhatikan, ayat tersebut mengangkat salah satu sifat Allah yang mulia; menciptakan. Diangkatnya sifat "menciptakan" di awal turunnya risalah ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan keimanan kepada Allah sebagai Sang Pencipta. Keberadaan Sang Pencipta di alam semesta ini adalah sebuah keniscayaan. Sebagaimana ketika kita menemukan sebuah sepatu hanyut di pinggir sungai, kita tidak akan mengatakan; "sepatu itu terbentuk karena evolusi.." sebaliknya kita pasti yakin bahwa sepatu itu ada pembuatnya (manusia) Maka, tidak mungkin pula kita menyebut alam semesta yg jauh lebih rumit daripada sekedar sepatu, atau jam tangan, atau gadget paling canggi...

Kunci Kunci Rezeki

Kita akan sebutkan beberapa saja di antara kuncinya yg begitu banyak.. 1. Berusaha/Ikhtiar إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ Sesungguhya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri (ar Ra'du 11) هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (ar Rahman 60) 2. Tawakkal وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (ath Tholaq 3) Tawakkal berarti keimanan bahwa rizki itu hanya dari Allah, dan Allah sudah mengaturnya. Saat ikhtiar tdk berbuah hasil sesuai keinginan, maka tawakkal dapat membuahkan hasil yg melebihi keinginan. 3. Berdoa Dengan sungguh2 meminta rizki, bangun di sepertiga malam, mncari waktu yg maqbul. وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا د...