Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk Apa Hadir UPA?

Tentu ada maksud, ketika Muassis Dakwah memakai istilah Usrah tuk menyebut UPA. Usrah artinya keluarga. Dari sini saja, harusnya sudah bisa dirasa-rasa untuk apa hadir di sana.  Untuk apa hadir di pertemuan keluarga? Rasanya bukan untuk mencari makanan dan kopi. Bahkan rasanya hadir acara keluarga itu juga bukan mencari nasihat dan materi. Hadir di agenda keluarga itu karena ada rasa di hati. Karenanya UPA adalah forum ukhuwwah, bukan (sekedar) tausiyah. Tausiyah sudah terlalu banyak di media sosial. Tapi ukhuwwah, bisakah dibangun dengan menonton rekaman kajian atau podcast ustadz ternama? UPA yang dibangun dari ukhuwwah akan berbuah amal jama'i. Sesuai tuntutan dakwah yang memerlukan pasukan berbaris rapi.  Bisa jadi terkadang, agenda UPA diganti dengan menjenguk anggota yang sakit, atau silaturahim ke anggota yang lama tak jumpa. Karena yang penting bukan deliveri materi (ppt dan pdf), tapi deliveri rasa ukhuwwah dari hati. Dibanding hadits keutamaan majelis ilmu, hadits be...

Tersesat di Rumah Sendiri?

Di musim sekolah, anak-anak sekolah islam dan pondok diarahkan dengan baik sehingga teratur mengamalkan Sholat Dhuha, Dzikir Matsurat, dan Tahsin Tilawah. Lalu kenapa, ketika di musim liburan, di rumahnya sendiri, anak-anak itu seperti kehilangan arah? Tak ada lagi Dhuha, Matsurat dan Tilawah?  Mungkin ini sekulerisme gaya baru? Ibadah-ibadah itu hanya kegiatan sekolah, jadi di luar sekolah tidak perlu lah? (Mirip dengan yang masa sekolah jilbaban, dan lepas semua saat kelulusan). Repotnya, (sebagian) orang tua di rumah juga punya mindset yang sama; "Biarinlah, mumpung liburan kasihan capek disuruh2 ibadah". Ini ga mau anaknya capek demi ibadah, atau ga mau dirinya sendiri capek ngurusin ibadah anak2nya? "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. 66:6) Ini ayat untuk orang tua, bukan untuk guru sekolah, apalagi kepsek dan waka kurikulum. Jangan sampai anak justru tersesat di rumahnya sendiri. Tersesat di musim liburan. Aktifitas baik itu per...

Ngapain Sih Puasa 9 Hari?

Cinta adalah keutamaan terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Ketika Allah menjanjikan sebuah amal dengan cinta-Nya maka ini adalah fadhilah yang lebih besar daripada sekedar diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dilancarkan rezeki, dibebaskan dari neraka, dimasukkan ke dalam surga dll.  Cinta adalah puncak dari semua itu. Karenanya, ulama tafsir ketika membahas surat Ash-Shaf ayat 4; . إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ Menyebut bahwa jihad adalah puncak amal. Karena Allah mensifati amal ini dengan cinta-Nya. Jika sekedar cinta saja sudah begitu mulia, maka bagaimana dengan paling dicinta ? Bukankah ini kedudukan amal di 10 awal Dzulhijjah? Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun menjawab tawaran cinta Allah ini dengan sepenuh jiwa raga; Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian isteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ تِسْعَ ذِىْ الْحِجَّةِ، وَيَوْمَ ع...

Kejahatan Ortu di Era Dijital?

https://hms.harvard.edu/news-events/publications-archive/brain/screen-time-brain Kajian Harvard Medical School menunjukkan pengaruh smartphone pada melemahnya konsentrasi dan memori anak.  Adapun kajian Profesor Kawashima Ryuta dari Tohoku Univ menunjukkan bahwa ukuran otak anak yang terlalu sering bermain smartphone tidak berkembang, alias stop bertumbuh. Padahal masa kanak2 adalah masa otak bertumbuh pesat. Jadi, berbagai riset menunjukkan bahwa smartphone mempengaruhi otak (anak) baik secara fungsional maupun struktural. Maka, di antara bentuk kejahatan orang tua terhadap anaknya di masa sekarang adalah membiarkan anaknya bebas bermain smartphone. Karena itu berpotensi merusak otak anak yang sedang tumbuh-tumbuhnya. Bagaimana caranya agar anak lebih terkontrol terkait smartphone? 1.Mulai dari ortu membatasi dirinya sendiri. 2.Ajak anak dialog tentang efek smartphone dan bagaimana memakainya dengan bijak. Berulang-ulang. 3.Buat aturan sebagaimana saran para ahli: - m...

Titipan Allah

Ketika akan menyampaikan kematian putranya, Ummu Sulaim radhiallahu 'anha berkata kepada suaminya; “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum menitipkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta titipan mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?” Abu Tholhah radhiallahu 'anhu menjawab, “Tidak.”  Ummu Sulaim lalu berkata, “Bersabarlah dan raihlah pahala karena kematian putramu.” (HR. Muslim no.2144) Anak adalah titipan Allah. Kematiannya, adalah pengembalian titipan itu kepada Pemilik Aslinya. Sebaik-baik orang yang dititipi adalah yang mengembalikan titipannya dengan kondisi terbaik. Apakah titipan itu dikembalikan dalam kondisi bertauhid, atau percaya ramalan bintang? Apakah titipan itu dikembalikan dalam keadaan rajin menegakkan shalat subuh, atau rajin bangun kesiangan? Apakah titipan itu dikembalikan dalam keadaan menjaga aurat, atau mengumbar aurat? Apakah titipan itu dikembalikan di tengah perjalanan ibadah belajar, atau sekedar perjalana...

Investasi Bodong THR Anak-Anak?

Dalam ayat ke-6 surat An-Nisa, Allah memberikan panduan bagaimana memberikan uang pada anak; "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.." Di antara makna " rusydan " atau cerdas dalam hal harta adalah bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Memprioritaskan kebutuhan, dan tidak menghamburkan harta tuk sekedar keinginan. Di musim lebaran ketika anak-anak banyak mendapat THR, maka mereka perlu diajak berpikir dan merencanakan ke mana akan menggunakannya. Investasi bodong bukanlah ketika THR dititipkan ke orang tuanya. Tapi the real investasi bodong adalah ketika anak dibiarkan belanja barang makruh apalagi haram dengan THR mereka. Apakah sekedar top up game, beli fashion buka aurat ala artis, jajan banyak makanan manis penyebab diabetes, atau bahkan pasang slot di judi online. Bukankah mereka masih ha...

Ibadah Terbaik di Injury Time

Mau banyak sholat, waktunya tinggal segitu-gitu aja. Mau banyak tilawah dan istighfar, waktunya juga tinggal segitu-gitu aja. Tapi ada ibadah, yang cuma perlu 5 menit, tapi kualitasnya bebas kita tentukan sendiri. Transfer sedekah. Mau cuma 50rb atau 1 juta atau lebih dari itu, kita yang tentukan. Sama 5 menitnya tapi nilainya sangat sangat jauh berbeda di sisi Allah. Saldo kita sisa berapa, itulah batasan sebaik apa kita bisa mengakhiri Ramadan. Dahsyatnya ibadah sedekah ini diakui oleh Al-Quran, yaitu ketika seorang hamba bisa dapat perpanjangan waktu hidup, yang mau ia lakukan adalah bersedekah. "Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:  'Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?' " (QS. Al-Munafiqun: 10) Mungkin kita belum bisa setotalit...